One Day One Love

Dipikir-pikir, dulu tulisan blog saya banyak yang mendayu layaknya orang melayu, banyak yang membahas soal cinta dan wanita. Karena agak sok dewasa, akhir-akhir ini jarang menulis soal itu. Sekarang jadi tertarik lagi buat menulis dengan tema ini.

Kemarin, teman saya yang sedang galau bilang, sekuat apapun fisik dan mental kita, segimanapun jagonya naik gunung, tetap lemah kalau urusannya hati. Saya setuju soal ini. Orang berwajah dan bertubuh Rambo pun, pasti punya hati yang mudah meleleh seperti Es Mambo. Saat bicara soal hati, entah jatuh atau patah, hidup kita menjadi lagu dangdut: tak kuasa menolak, tak jua mampu mengelak.

Adakah yang lebih menyenangkan dibandingkan jatuh cinta? Adakah yang mampu menggurat senyum selebar hati yang berbunga? Entahlah, yang pasti, rasa itu memang memesona: saat adegan gerak lambat dan tiupan angin serta buih balon tiup yang biasanya hanya ada di FTV kini menjadi nyata. Saat sang putri salju nan cantik jelita ada, menjadi kurcaci pun kita rela asal bisa bersama. Seindah, dan sepicik, itulah cinta. Prosesnya seperti karbit, meletup mengejutkan, lalu efeknya bisa hilang.

Tapi, karena saya mau nikah agar bisa kawin (lho?), saya akan menempatkan ini dalam konteks yang lebih dewasa: komitmen. Cinta adalah satu hal, dan komitmen adalah hal lain. Mencintai tidak menumbuhkan komitmen, dan berkomitmen tidak berarti cinta. Konsep dalam berkeluarga pada umumnya adalah mempertahankan status keluarga dengan dasar hukum, norma, atau agama. Di satu titik, bisa saja, cinta hanya jadi tinggal cerita. Pada titik itulah komitmen kehilangan indahnya. Komitmen itu kaku, rigid, dan stagnan, sedangkan cinta yang membuatnya melayang-layang dan berkembang. Komitmen tanpa cinta bagaikan makanan tanpa garam dan masako; bernutrisi, tapi tidak lezat dan membuat ketagihan. Komitmen bisa saja bertahan kokoh tanpa cinta, tapi tidak mungkin berjalan indah dan bahagia.

Pertanyaannya, saat berkeluarga kelak, adalah mampukah kita mempertahankan cinta sekuat kita menghargai komitmennya? Sanggupkah kita menjadikan komitmen sebagai kanvas, cinta sebagai warna, dan menggoresnya bersama selamanya? Harus, meskipun susah, dan memang tidak ada yang bilang bahwa itu akan berjalan mudah.

Oleh karenanya, jika cinta memang karbitan, maka, seperti tulisan di blog ini, untukmu kan kuterbitkan cinta, setidaknya satu kali setiap harinya. Dan berdoa semoga Allah kelak memperkenankan kita dan mengukuhkannya hingga ke Surga. Semoga.

Oh, ternyata saya masih bisa menulis hal yang mendayu-dayu.

One Day One Post at http://gibranhuzaifah.wordpress.com

Follow twitter @gibranwow

5 thoughts on “One Day One Love

Leave a Reply