ATM Usang

Ada satu teori pasaran yang dipasarkan oleh tokoh-tokoh pebisnis tentang bagaimana memulai bisnis, yaitu ATM: Amati, Tiru, Modifikasi. Idenya sederhana dan sangat mudah diaplikasikan. Untuk memulai berbisnis, tidak perlu menggunakan ide orisinil, cukup lihat sekitar, lalu tiru saja dengan sedikit modifikasi. Contohnya, katanya, adalah Tehbotol, yang mengkombinasikan teh dengan botol, lalu diberi nama teh botol. Atau contoh lain adalah, ada brand besar restoran Pizza Hut, lalu Anda modifikasi menjadi Pizza Hot. Ide ini dulu saya percayai efektif, tapi setelah saya terjun di dalam bisnis dan mempelajari banyak ilmu dari berbagai pebisnis sukses, teori ini sangatlah gegabah.

Mengapa gegabah? Karena, pertama, contoh yang digunakan saja salah. Tehbotol bukan sebuah peniruan dan modifikasi kecil, sama sekali tidak. Tehbotol buatan keluarga Sosrowidjojo adalah penemuan brilian dalam dunia minuman, dan ia menjadi pelopor. Pelopor tidak mungkin meniru, karena selalu berinovasi untuk menyelesaikan masalah. Ide teh ditempatkan dalam botol, dari sejarahnya Sosro, adalah untuk menanggulangi masalah distribusi teh jadi yang tadinya dengan panci untuk dijual ke pasar. Adakah komponen dangkal peniruan dan pemodifikasian? Sama sekali tidak. Ini sepenuhnya inovasi brilian. Kedua, kaitannya dengan sustainabilitas. Silahkan tiru McDonald lalu Anda buat restoran cepat saji dengan konsep sama bernama MekDonal. Jalankan restoran itu seserius mungkin, akankah bertahan ratusan tahun seperti McDonald? Saya berani bertaruh, tidak. McDonald membangun kekuatan brand dengan proses yang panjang hingga kokoh dan berkelanjutan, proses itu tidak bisa ditiru tidak pula dimodifikasi. Para pengikut hanya akan bisa memulai, tanpa bisa melangkah, apalagi berlari dan bertahan. Apa berbisnis intinya hanya mulai lalu langsung gagal? Tentu saja tidak, gunakan langkah cerdas.

Ketiga, tidak etis. Ada yang lebih penting dari sekedar memulai bisnis, yaitu menjaganya agar tetap etis. Menggunakan nama brand orang lain, dengan brand image yang hanya sedikit dimodifikasi tentunya bukan hal yang etis dalam memulai bisnis. Ini tiada beda dengan mencontek skripsi orang lain lalu mengganti judulnya dan mengaku-aku karya Anda. Apresiasi karya, penghargaan atas orisinalitas ide menjadi penting untuk menciptakan iklim bisnis yang kompetitif dan sehat. Menerapkan ATM dengan pemahaman meniru brand, sangat menyesatkan. Keempat, tidak berproses. Poin paling asyik dalam menjalankan bisnis bukan saat bisnis Anda mulai dan untung, tapi saat Anda belajar, berproses, bertahap, dan berkembang. Bisnis hanya alat dan cara untuk menjadi diri yang terbaik, maka gunakanlah proses yang terbaik. Membuka warung pecel lele dengan brand Pecel Lele Leli (mengikuti Lele Lela) akan menghilangkan proses kreatif, membangun brand, meriset produk, dan itu hanya akan merugikan Anda dan meremehkan kapasitas diri Anda, percayalah.

Kelima, mengkhianati potensi. Potensi kita, sebagai pebisnis yang memiliki intelektual dan moral, akan direndahkan jika kita memulai bisnis hanya dengan mencontek dan memodifikasi sedikit karya orang lain. Padahal, banyak sekali inovasi dan karya besar yang bisa kita lakukan, banyak sekali langkah dahsyat yang bisa kita jalani melebihi sekadar amati-tiru-modifikasi. Memiliki mental meniru, akan melemahkan kreativitas dan daya inovasi Anda. Serta, tentu saja, mengkhianati potensi besar yang Allah berikan kepada Anda. Bisa jadi, jika tidak hanya sekadar membuat kripik singkong brand Maicing-icing (mengikuti Maicih), dan menggali lebih dalam passion bisnis Anda, memahami lebih besar potensi dan kekuatan diri, Anda bisa memulai bisnis dengan ide dan langkah yang lebih besar, dan mampu berkelanjutan.

Bisnis, bagi saya, hanya alat memaksimalkan potensi diri dan mencapai visi hidup. Oleh karena itu, saya memegang erat kredo dari Pak Rhenald Kasali: “Berbisnislah dengan proses dan etika, jangan instan”, karena hidup memang proses dan perlu berpegang pada norma. Berbisnislah, kejarlah mimpi, tapi jangan sekadar instan dan melanggar etika. Bangsa Indonesia butuh pebisnis yang berkualitas, tahan banting, dan kompetitif. Itu semua tidak mungkin tercapai tanpa penelusuran dan perjuangan ide kreatif, inovatif, dan orisinil yang Allah berikan kepada Anda. Lihat saja pebisnis besar seperti Steve Jobs, Chaerul Tanjung, Sandiaga Uno, pernahkah mereka hanya meniru dan memodifikasi? Masyarakat membutuhkan pebisnis yang tangguh, membesar, dan bertahan lama, yang itu tidak mungkin ditempuh oleh pebisnis instan yang tidak menghargai ide dan proses pada konsep Amati-Tiru-Modifikasi yang sudah usang. Wallahua’lam.

One Day One Post at http://gibranhuzaifah.wordpress.com

Follow twitter @gibranwow

4 thoughts on “ATM Usang

  1. Sandiaga uno itu broker investasi biasa gan.. Ga ada istimewanya di bidangnya, juga chaerul tanjung.. Mereka cuma berhasil dan di blow up media, that’s it.. the right role model for you maybe pemilik susi air yang ane lupa namanya.. But, mostly agree with you.. Banyakim ilmu aja lagi

Leave a Reply