Diri Manipulasi

Era informasi mempermudah manipulasi. Percayakah Anda? Kalau saya, sangat percaya. Di era informasi yang segala hal bisa terungkap dari ujung ibu jari ini, proses manipulasi akan mudah sekali. Manipulasi bisa terjadi karena adanya informasi yang tidak simetris. Asimetriknya informasi ini akan semakin kuat dengan adanya asosiasi citra dengan persepsi. Semakin tereksposnya persepsi kita dengan citra yang ada, semakin mudah manipulasi terjadi.

Seorang politisi muda yang bersih akan mampu termanipulasi citranya menjadi seorang idealis rapuh yang terpengaruh dengan kotornya dunia politik, hanya melalui pemberitaan salah satu akun twitter anonim. Ide konsumerisme dan pembelian yang inefisien bisa dimanipulasi menjadi prestise dan harga diri; hanya melalui citra dalam film hollywood terbaru. Ya, semudah itu manipulasi terjadi. Ide seburuk apapun bisa dipoles menjadi manis, semudah ide bersih yang dikemas menjadi busuk. Manipulasi dalam ranah ide, selalu membahayakan karena akan melemahkan esensi yang ada di dalamnya.

Akan tetapi, semakin kesini, masyarakat semakin mampu untuk beradaptasi dalam dunia manipulasi. Sayangnya, beradaptasi disini bukan dalam artian mampu menyaring manipulasi agar lebih jernih, tetapi justru mengendarai manipulasi untuk tujuan memugar citra diri. Teknologi mempermudah kita untuk menampilkan diri seperti apa yang kita mau orang lihat dari diri kita. Agar orang bisa menganggap kita berkelas, tampilkan saja post di twitter berisi “#np Mozart – Symphony #40 in G Minor”, padahal sama sekali tidak mengerti dimana keindahan dari alunan si Mozart itu.

Agar bisa dianggap anak gunung, seorang wanita manja tinggal memajang foto-foto pegunungan atau post yang haus petualangan. Padahal, saat naik gunung, seperempat perjalanan pun sudah merepotkan banyak orang. Agar dianggap pengusaha sukses, kata-kata kesuksesan dan pencetusan omzet yang jauh melebihi kenyataan seringkali ditampilkan di status Blackberry Messenger. Nyatanya, bisnisnya pun hancur morat-marit. Agar terlihat sebagai orang yang sholeh, nasihat religius serta postingan keagamaan rutin kita bagikan melalui Facebook, sementara amalan wajib lima waktu harian saja tidak tunai. Inilah diri manipulasi.

Diri manipulasi bisa muncul saat kita tidak mampu merefleksikan jati diri yang solid yang sebenarnya kita miliki. Tiadanya jati diri yang utuh memaksa kita untuk mengadopsi pengakuan dari luar: persepsi kawan, anggapan orang. Jalan pintas untuk mendapatkan pendapat orang lain tentang diri kita sesuai dengan apa yang kita mau adalah dengan menampilkan citra asosiatif melalui media yang bisa diakses publik. Setiap citra mudah diasosiasikan sehingga mempengaruhi persepsi orang lain terhadap kita; maka, kita merasa menjadi diri yang kita inginkan, meskipun ada di balik kepalsuan.

Dulu kala, ada kisah seorang Khalifah besar Umar bin Khattab yang saat ditemui ia hanya memakai baju tambalan di depan rumah sederhana yang sangat jauh dari istana. Dengan menampilkan citra demikian, orang-orang bukannya mengaggap ia rendah, tapi justru semakin segan dan hormat sepenuh hati. Citra seorang Umar tidak dibangun dari lembaran kain atau tumpukan batu bata, tapi tersusun atas gabungan karakter mulia yang ditampilkan dengan apa adanya. Citra diri yang solid, utuh, dan jujur justru mampu memperlihatkan jati diri yang jauh lebih kuat dibandingkan informasi apapun. Di era informasi ini, ada baiknya kita berhenti mengukir topeng-topeng indah yang menampilkan diri manipulasi, tetapi justru memulai menata diri kita yang asli, memperbaiki setiap bopeng dan lubang agar kelak kita bisa berbangga untuk menampilkan diri kita, apa adanya.

One Day One Post at http://gibranhuzaifah.wordpress.com

Follow twitter @gibranwow

Orang Tua Harta

Saya besar di keluarga menengah menjelang ke bawah. Kelompok masyarakat ini adalah strata yang terlalu berlebih jika disebut miskin, karena nyatanya masih mampu memenuhi kebutuhan primer, tapi juga jelas-jelas tidak kaya. Jika dalam konteks masuk kuliah, misalnya, strata ini tidak cukup miskin untuk mendapatkan beasiswa, tapi juga tidak cukup mampu untuk membayar uang muka 15 juta. Kondisi ini menuntut besarnya harga diri untuk tidak dianggap miskin, sekaligus kemampuan mengelola arus kas yang memang tipis. Dengan karakter seperti inilah saya dididik oleh orang tua.

Meskipun demikian, bisa dikatakan, karakter ini adalah karakter diri yang paling saya syukuri saat ini. Karena saya tidak dididik oleh uang (yang memang nyatanya tidak banyak), maka saya tidak merasa bahwa uang adalah segalanya. Karena saya tidak dididik untuk mudah terpenuhi kebutuhan (karena nyatanya memang tidak bisa), maka saya tidak merasa bahwa mencapai keinginan adalah hal yang sepele. Mental ini, yang diajarkan oleh orang tua saya, justru adalah hal yang tidak bisa diberikan oleh orang tua kaya tanpa perhatian yang holistik terhadap anaknya.

Banyak sekali, sangat banyak, orang tua yang mampu membeli ini-itu lalu mendidik anaknya dengan mental seperti itu. Ketika anaknya yang kelas 3 SD meminta iPad dan Blackberry, dengan mudahnya diberi. Ketika anaknya yang SMP meminta motor Ninja, dengan gampangnya dibeli. Ketika anaknya yang SMA meminta mobil matic sport, dengan enaknya dipenuhi. Setiap hal materi yang diminta oleh anak akan sangat mudah diberikan, tanpa ada perjuangan atau pertimbangan tentang kebutuhan. Banyak sekali orang tua yang mampu secara materi tapi justru mendidik anaknya dengan harta; melepas anak dalam ranah keinginan dan gengsi.

Menurut saya, cara mendidik seperti ini bukan cara yang terbaik. Kenapa? Pertama, karena akan membangun mental manusia yang terkekang oleh keinginan yang didasari oleh gengsi dan harta. Kedua, tentu saja membangun mental yang jauh dari perjuangan untuk mampu memenuhi keinginan. Ketiga, menggantungkan diri kepada hal material tanpa lekatan empati, kepedulian, dan kecerdasan. Orang-orang yang terdidik dengan harta, akan diperbudak harta. Orang-orang yang membiarkan setiap keinginan ditempuh tanpa dibenturkan dengan kebutuhan dan empati, maka akan hidup dikendarai oleh keinginan yang egois dan tanpa esensi.

Kesejahteraan sosial tak akan mampu dicapai tanpa adanya kesederhanaan sosial. Kesederhanaan sosial takkan bisa diwujud tanpa adanya kesederhanaan personal. Dan kesederhanaan personal tidak mungkin terbentuk tanpa adanya kekuatan untuk memilih antara keinginan dan kebutuhan, serta apresiasi tinggi terhadap makna dan perjuangan. Semua hal ada di dalam persepsi yang kelak berkembang menjadi aksi. Apa yang kita yakini akan didasari oleh apa yang kita pelajari. Dari cara mendidik yang harta-sentris, saya belajar bukan hanya bagaimana mendidik anak saya kelak, tapi juga mengekstrak satu hikmah penting tentang keinginan, proses, perjuangan, dan harta. Semoga Allah selalu memberkahi orang tua saya yang membekali anaknya tidak dengan harta materi, tapi kekayaan diri.

One Day One Post at http://gibranhuzaifah.wordpress.com

Follow twitter @gibranwow

Sirkuit Kelebihbaikan

Enam hari kemarin saya absen menulis di blog. Alasannya sih bisa dicari-cari, terutama karena 4 hari saya sakit dan 2 hari lainnya saya sangat sibuk. Tapi, kalau dipikir-pikir, itu tidak juga bisa dijadikan alasan. Februari bisa dibilang banyak hal yang tidak sesuai dengan komitmen, salah satunya adalah menulis. Jika Januari berjalan dengan sangat memuaskan dengan prestasi yang bisa saya syukuri, Februari yang yang sudah hampir lewat setengah ini saya merasa berjalan di tempat, atau bahkan mundur sesekat-dua-sekat.

There’s no better day than a day that we can surely say, “Yes, I am a better person than yesterday”. Begitu tulis saya di twitter. Mengingat itu, saya jadi sering berkaca: “apakah saya lebih baik hari ini? Hal apakah yang saya lakukan melebihi kemarin?”. Sayangnya, jawaban dari pertanyaan ini tak jarang mengecewakan, progresifitas harian saya sangat rendah, jika dibilang tidak ada. Bukan menjadi beruntung karena lebih baik, saya justru celaka atau merugi karena banyak harinya justru sama saja atau ada satu dua dekadensi.

Menjadi lebih baik dari waktu ke waktu adalah tantangan terbesar dan terberat yang harus kita tempuh di kehidupan. Dalam segala aspek, menjaga trend positif untuk bertumbuh adalah hal yang tidak bisa ditoleransi untuk mewujudkan diri yang terbaik. Penurunan tentu saja memperburuk diri dan aksi, dan stagnansi menjadi bukti bahwa kita kehabisan spirit dan kreasi. Dalam soal ibadah ritual saja, selalu lebih baik menjadi sebuah keharusan; sholat semakin khusyuk, puasa sunnah semakin rajin, berdzikir semakin rutin. Hanya dengan inilah kita bisa menjadi hamba Allah yang terbaik, lain tidak. Kehidupan sosial, karir, bisnis, dan keluarga juga menuntut kelebihbaikan setiap harinya. Menjadi lebih baik bukanlah pilihan, tapi sebuah keharusan jika kita ingin menjadi diri yang terbaik.

Permasalahannya, untuk melakukan ini tidak semudah mengatakannya. Bagaimana menjaga trend positif diri saat secara alamiah kita memang hidup dalam instabilitas secara emosional dan spiritual? Bagaimana terus menerus lebih baik, sementara semangat dan pola pikir kita terkadang menurun? Sebagai manusia yang sangat sering menurun, saya sama sekali tidak tahu jawabannya. Yang pasti, saat saya merasa bahwa kehidupan memang harus lebih baik, maka saya akan berusaha untuk lebih baik. Penurunan hanya terjadi saat hal-hal yang membuat saya lebih baik saya lupakan.

Menempatkan ide yang tepat di dalam kepala adalah kunci pergerakan. Mustahil kita bergerak maju ketika ide-ide kemajuan tidak ada di kepala. Tidak mungkin kita beraksi raksasa ketika di kepala terisi oleh ide-ide kurcaci. Ide menjadi diri yang lebih baik harus selalu ada di kepala, di tempatkan tepat di depan kelopak mata. Sehingga, di detik otak kita terstimulasi untuk bertindak hal yang tidak berguna atau mata kita melihat hal menarik namun tidak mengembangkan kita, maka ide itu akan menampar keras dan menghadapkan kita kembali di koridor progresif. Menjadi lebih baik bukan bergantung pada dimana kita ada, tapi karena apa kita melangkah dan mata-angin mana yang menjadi tujuan kita berarah. Sebelum menjadi lebih baik, kita perlu tahu bahwa kitalah yang harus menjaga dan terjaga dalam sirkuit yang mengarah titik kelebihbaikan.

One Day One Post at http://gibranhuzaifah.wordpress.com

Follow twitter @gibranwow

One Day One Love

Dipikir-pikir, dulu tulisan blog saya banyak yang mendayu layaknya orang melayu, banyak yang membahas soal cinta dan wanita. Karena agak sok dewasa, akhir-akhir ini jarang menulis soal itu. Sekarang jadi tertarik lagi buat menulis dengan tema ini.

Kemarin, teman saya yang sedang galau bilang, sekuat apapun fisik dan mental kita, segimanapun jagonya naik gunung, tetap lemah kalau urusannya hati. Saya setuju soal ini. Orang berwajah dan bertubuh Rambo pun, pasti punya hati yang mudah meleleh seperti Es Mambo. Saat bicara soal hati, entah jatuh atau patah, hidup kita menjadi lagu dangdut: tak kuasa menolak, tak jua mampu mengelak.

Adakah yang lebih menyenangkan dibandingkan jatuh cinta? Adakah yang mampu menggurat senyum selebar hati yang berbunga? Entahlah, yang pasti, rasa itu memang memesona: saat adegan gerak lambat dan tiupan angin serta buih balon tiup yang biasanya hanya ada di FTV kini menjadi nyata. Saat sang putri salju nan cantik jelita ada, menjadi kurcaci pun kita rela asal bisa bersama. Seindah, dan sepicik, itulah cinta. Prosesnya seperti karbit, meletup mengejutkan, lalu efeknya bisa hilang.

Tapi, karena saya mau nikah agar bisa kawin (lho?), saya akan menempatkan ini dalam konteks yang lebih dewasa: komitmen. Cinta adalah satu hal, dan komitmen adalah hal lain. Mencintai tidak menumbuhkan komitmen, dan berkomitmen tidak berarti cinta. Konsep dalam berkeluarga pada umumnya adalah mempertahankan status keluarga dengan dasar hukum, norma, atau agama. Di satu titik, bisa saja, cinta hanya jadi tinggal cerita. Pada titik itulah komitmen kehilangan indahnya. Komitmen itu kaku, rigid, dan stagnan, sedangkan cinta yang membuatnya melayang-layang dan berkembang. Komitmen tanpa cinta bagaikan makanan tanpa garam dan masako; bernutrisi, tapi tidak lezat dan membuat ketagihan. Komitmen bisa saja bertahan kokoh tanpa cinta, tapi tidak mungkin berjalan indah dan bahagia.

Pertanyaannya, saat berkeluarga kelak, adalah mampukah kita mempertahankan cinta sekuat kita menghargai komitmennya? Sanggupkah kita menjadikan komitmen sebagai kanvas, cinta sebagai warna, dan menggoresnya bersama selamanya? Harus, meskipun susah, dan memang tidak ada yang bilang bahwa itu akan berjalan mudah.

Oleh karenanya, jika cinta memang karbitan, maka, seperti tulisan di blog ini, untukmu kan kuterbitkan cinta, setidaknya satu kali setiap harinya. Dan berdoa semoga Allah kelak memperkenankan kita dan mengukuhkannya hingga ke Surga. Semoga.

Oh, ternyata saya masih bisa menulis hal yang mendayu-dayu.

One Day One Post at http://gibranhuzaifah.wordpress.com

Follow twitter @gibranwow

ATM Usang

Ada satu teori pasaran yang dipasarkan oleh tokoh-tokoh pebisnis tentang bagaimana memulai bisnis, yaitu ATM: Amati, Tiru, Modifikasi. Idenya sederhana dan sangat mudah diaplikasikan. Untuk memulai berbisnis, tidak perlu menggunakan ide orisinil, cukup lihat sekitar, lalu tiru saja dengan sedikit modifikasi. Contohnya, katanya, adalah Tehbotol, yang mengkombinasikan teh dengan botol, lalu diberi nama teh botol. Atau contoh lain adalah, ada brand besar restoran Pizza Hut, lalu Anda modifikasi menjadi Pizza Hot. Ide ini dulu saya percayai efektif, tapi setelah saya terjun di dalam bisnis dan mempelajari banyak ilmu dari berbagai pebisnis sukses, teori ini sangatlah gegabah.

Mengapa gegabah? Karena, pertama, contoh yang digunakan saja salah. Tehbotol bukan sebuah peniruan dan modifikasi kecil, sama sekali tidak. Tehbotol buatan keluarga Sosrowidjojo adalah penemuan brilian dalam dunia minuman, dan ia menjadi pelopor. Pelopor tidak mungkin meniru, karena selalu berinovasi untuk menyelesaikan masalah. Ide teh ditempatkan dalam botol, dari sejarahnya Sosro, adalah untuk menanggulangi masalah distribusi teh jadi yang tadinya dengan panci untuk dijual ke pasar. Adakah komponen dangkal peniruan dan pemodifikasian? Sama sekali tidak. Ini sepenuhnya inovasi brilian. Kedua, kaitannya dengan sustainabilitas. Silahkan tiru McDonald lalu Anda buat restoran cepat saji dengan konsep sama bernama MekDonal. Jalankan restoran itu seserius mungkin, akankah bertahan ratusan tahun seperti McDonald? Saya berani bertaruh, tidak. McDonald membangun kekuatan brand dengan proses yang panjang hingga kokoh dan berkelanjutan, proses itu tidak bisa ditiru tidak pula dimodifikasi. Para pengikut hanya akan bisa memulai, tanpa bisa melangkah, apalagi berlari dan bertahan. Apa berbisnis intinya hanya mulai lalu langsung gagal? Tentu saja tidak, gunakan langkah cerdas.

Ketiga, tidak etis. Ada yang lebih penting dari sekedar memulai bisnis, yaitu menjaganya agar tetap etis. Menggunakan nama brand orang lain, dengan brand image yang hanya sedikit dimodifikasi tentunya bukan hal yang etis dalam memulai bisnis. Ini tiada beda dengan mencontek skripsi orang lain lalu mengganti judulnya dan mengaku-aku karya Anda. Apresiasi karya, penghargaan atas orisinalitas ide menjadi penting untuk menciptakan iklim bisnis yang kompetitif dan sehat. Menerapkan ATM dengan pemahaman meniru brand, sangat menyesatkan. Keempat, tidak berproses. Poin paling asyik dalam menjalankan bisnis bukan saat bisnis Anda mulai dan untung, tapi saat Anda belajar, berproses, bertahap, dan berkembang. Bisnis hanya alat dan cara untuk menjadi diri yang terbaik, maka gunakanlah proses yang terbaik. Membuka warung pecel lele dengan brand Pecel Lele Leli (mengikuti Lele Lela) akan menghilangkan proses kreatif, membangun brand, meriset produk, dan itu hanya akan merugikan Anda dan meremehkan kapasitas diri Anda, percayalah.

Kelima, mengkhianati potensi. Potensi kita, sebagai pebisnis yang memiliki intelektual dan moral, akan direndahkan jika kita memulai bisnis hanya dengan mencontek dan memodifikasi sedikit karya orang lain. Padahal, banyak sekali inovasi dan karya besar yang bisa kita lakukan, banyak sekali langkah dahsyat yang bisa kita jalani melebihi sekadar amati-tiru-modifikasi. Memiliki mental meniru, akan melemahkan kreativitas dan daya inovasi Anda. Serta, tentu saja, mengkhianati potensi besar yang Allah berikan kepada Anda. Bisa jadi, jika tidak hanya sekadar membuat kripik singkong brand Maicing-icing (mengikuti Maicih), dan menggali lebih dalam passion bisnis Anda, memahami lebih besar potensi dan kekuatan diri, Anda bisa memulai bisnis dengan ide dan langkah yang lebih besar, dan mampu berkelanjutan.

Bisnis, bagi saya, hanya alat memaksimalkan potensi diri dan mencapai visi hidup. Oleh karena itu, saya memegang erat kredo dari Pak Rhenald Kasali: “Berbisnislah dengan proses dan etika, jangan instan”, karena hidup memang proses dan perlu berpegang pada norma. Berbisnislah, kejarlah mimpi, tapi jangan sekadar instan dan melanggar etika. Bangsa Indonesia butuh pebisnis yang berkualitas, tahan banting, dan kompetitif. Itu semua tidak mungkin tercapai tanpa penelusuran dan perjuangan ide kreatif, inovatif, dan orisinil yang Allah berikan kepada Anda. Lihat saja pebisnis besar seperti Steve Jobs, Chaerul Tanjung, Sandiaga Uno, pernahkah mereka hanya meniru dan memodifikasi? Masyarakat membutuhkan pebisnis yang tangguh, membesar, dan bertahan lama, yang itu tidak mungkin ditempuh oleh pebisnis instan yang tidak menghargai ide dan proses pada konsep Amati-Tiru-Modifikasi yang sudah usang. Wallahua’lam.

One Day One Post at http://gibranhuzaifah.wordpress.com

Follow twitter @gibranwow