Anti Madesu

Saya sering berdiskusi dengan anak-anak muda, baik mahasiswa maupun alumni fresh graduate, tentang rencana hidup dan masa depan. Sayangnya, banyak sekali jawaban-jawaban yang memprihatinkan, seperti “aduh, entahlah, suram euy masa depan”, atau “lihat aja kemana angin bertiup”. Memprihatinkan, karena bahkan perencanaan, mimpi, visi, yang menjadi milik pribadi dan murah harganya saja tidak punya, bagaimana bisa memberikan aksi yang nyata. Banyak sekali pemuda-pemudi yang tak mampu menyalakan lentera untuk tapak jalannya sendiri. Makanya masa depan terasa suram.

Kenapa masa depan terasa suram? Karena pandangan kita ke depan buram. Kenapa pandangan kita ke depan buram? Karena pemahaman terhadap potensi dan panggilan hati yang kita miliki sekarang semakin kelam. Hidup itu sesederhana cinta dan kebahagiaan: bukan soal dari mana atau dari siapa kita meraihnya, yang penting kita bisa merasakannya. Karir dan masa depan pun demikian. Tidak perlu risau soal gelar sarjana atau basis keilmuan, atau perusahaan apa dan bisnis apa yang akan kita lakukan, selama kita tahu apa yang kita cinta dan apa yang kita damba, maka kita tinggal merealisasikannya. Kejar saja habis-habisan apa saja yang meresahkan diri kita jika tidak mencapainya, dan refleksikan dengan kejujuran nurani yang akan melindungi kita dari pelanggaran norma. Jika sudah ada, berupayalah, capailah, dan berbahagialah.

Mudahkah melakukan itu? Nampaknya sulit. Sulit, karena kita terlalu banyak takut dan mengkhawatirkan segala hal. Worry less, feel more. Kata Steve Jobs saja, “You can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards”. Yang perlu Anda lakukan, kata Om Jobs lagi, adalah meyakini suatu hal; nyali, karma, takdir, apapun itu. Menjalani masa depan semudah meyakini apa yang kita cintai, memimpikan apa yang kita yakini, dan meraihnya tanpa lelah. Hal-hal besar dan kecil menanti untuk dilakukan. Masalah besar dan kecil menunggu untuk diselesaikan. Cukup dengan kepedulian dan kemauan untuk memberikan sesuatu dalam kehidupan lah kita dapat menjalankan masa depan yang bermakna.

Ada anekdot menarik dari teman saya. Dia bilang “selama ini saya merasa menjadi mesin yang efisiensinya rendah: makan banyak, tapi produktivitasnya kecil, makanya saya mau berubah”. Itu pernyataan paling menarik dan inspiratif yang saya dapatkan hari ini. Jangan, sungguh, jangan jadi makhluk inefisien. Selalu makan, menghabiskan oksigen, menyerap energi matahari, tapi tidak melakukan dan menghasilkan hal yang signifikan. Apa gunanya hidup di dunia menghabiskan masa kemudian mati tanpa meninggalkan makna? Dari anekdot sederhana itu saya belajar, jurus anti madesu adalah menyadari bahwa kita makhluk yang harus berbuat dan menghasilkan sesuatu. Anti madesu semudah kita melihat ke cermin dengan pandangan dan pertanyaan jujur: “Apa yang bisa saya lakukan sebelum saya mati?”, lalu tempatkanlah mimpi, cinta, dan makna di dalamnya. Ya, untuk anti madesu, memang semudah itu.

 

Leave a Reply