Revisi Alasan

Kehidupan adalah sekumpulan alasan. Kehidupan kita hanya diisi oleh kedua hal ini: melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Dan hal paling mendasar dari melakukan atau tidak melakukan adalah alasan. Kita selalu punya sekurang-kurangnya satu alasan untuk bergerak atau untuk diam; untuk terlelap atau terjaga, untuk berjalan atau berlari, untuk hidup atau mati. Alasan ini bisa datang dari dalam atau diadopsi dari luar. Alasan ini bisa mendalam dan kokoh, bisa juga dangkal. Tapi, kita selalu punya alasan, karena kehidupan adalah sekumpulan alasan.

Sekalipun memiliki seribu alasan untuk tidak melakukan sesuatu, terkadang kita hanya butuh satu alasan kontradiktif untuk melakukannya, dan semudah itulah naluri kita mengambil keputusan. Tuliskan seribu alasan Anda untuk tidak berjalan dari satu gedung 100 lantai ke gedung lainnya dengan menggunakan kabel baja: karena itu tindakan bodoh, takut mati, takut ketinggian, tidak berpengalaman, tidak ada gunanya, dan lain-lain. Tapi jika saya HARUS melakukan itu dengan ancaman ibu saya dibunuh, maka saya tidak akan berpikir panjang untuk menyeberangi gedung pencakar. Pemecah rekor dunia juga melakukan hal tersebut hanya untuk kepuasan dan pembuktian diri. Kita hanya butuh satu alasan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Kebijaksanaan dalam hidup adalah menempatkan alasan yang tepat pada tindakan yang tepat, dan alasan yang benar pada tindakan yang besar. Mulia atau hinanya alasan akan menjadi rahim bagi ide mulia atau hina berkembang. Makna selalu ada di dalam alasan, karena itulah Allah melihat tindakan bukan dari tindakannya, tapi dari alasannya. Kemuliaan tindakan ada di dalam alasan. Mari bayangkan ada satu orang peserta Indonesia Mengajar yang pergi ke pedalaman untuk menebar ilmu dan kebaikan bagi anak masa depan Indonesia, lalu ada satu orang lagi pergi untuk mempercantik CV agar bisa lancar kelak di dunia kerja. Tindakan yang sama, mana yang dianggap lebih mulia, dan mana pula yang lebih bermakna?

Akan tetapi, hidup itu menarik: karena selama nyawa masih terisi, alasan masih bisa direvisi. Dulu seseorang ingin menjadi entrepreneur agar bisa menjadi kaya, lalu berubah agar bisa membantu sesama, lalu berubah agar bisa beribadah kepada-Nya. Alasan bisa direvisi, menjadi semakin mulia, semakin kokoh. Jika ini terjadi, di akhir waktu kita akan menemukan bahwa tindakan yang sama ternyata semakin lama menggurat lebih banyak makna. Makna dari tindakan ditentukan oleh alasan; maka temukanlah alasan yang tepat untuk tindakan yang tepat, dan alasan yang benar untuk tindakan yang besar.

Dalam hidup, saya mencari kebahagiaan dan makna dalam perbuatan, yang saya rasa bisa ditemukan dari tingginya alasan. Sudah benarkah alasan saya? Saya rasa tidak, karena masih didasari oleh pragmatisme dan egoisme yang rendah. Tapi saya selalu berdoa, bahwa sebelum nyawa saya dicabut kelak, Allah memberikan saya kesempatan untuk memuarakan alasan kepada-Nya dalam setiap diam dan gerak.

 

Leave a Reply