Mari Selalu Lapar

Beberapa hari kemarin, saya 10 hari menginap di Hotel The Sultan. Mewah. Yang paling menarik adalah makanannya yang selalu terjamin dengan kualitas bintang lima. Makan terjadwal, selalu kenyang, dan enak. Di satu hari, saya lupa makan. Waktu sudah hampir malam, tapi saya belum makan siang. Karena terbiasa makan enak dan rutin di hotel bintang lima, rasa laparnya terasa saya lebih-lebihkan, layaknya korban kemarau di Ethiopia. Ironisnya, saat lapar (yang sebenarnya tidak terlalu lapar) seperti itu, saya membaca kondisi pengungsi banjir di suatu wilayah yang berebut makanan karena kekurangan. Banyak sekali warga yang kelaparan dan anak-anak yang tidak makan di sekitar saya pada waktu yang sama. Membaca hal itu, saya sedih dan malu merasa lapar hanya karena terlewat satu jadwal makan; saya malu jika tidak prihatin. Tiba-tiba saya tidak mau tidak lapar.

Saya jadi ingat, salah satu mimpi saya untuk jadi pengusaha adalah memberantas kelaparan. Di bulan Ramadhan pertama saya sebagai mahasiswa, saya merasakan kelaparan untuk pertama kalinya. Suatu hari saya kesiangan sahur, berangkat kuliah seharian sampai jam 5, tidak bisa buka puasa, dan tidak juga bisa sahur di hari berikutnya karena tidak ada uang, lalu baru makan jam 8 malam setelah uang dikirim orang tua. Lebih dari 36 jam tidak ada satu makanan pun yang masuk ke kerongkongan. Rasa lapar yang saya rasakan hampir membuat limbung, nyaris pingsan. Alhamdulillah Allah masih memberikan saya kesempatan untuk berefleksi. Tepat esok harinya, saya membaca berita tentang orang yang mati kelaparan di suatu daerah. Bayangkan: Anda lapar, lapar sekali, sampai rasa lapar membuat Anda tidak bergerak dan energi di otak habis. Anda lapar sampai mati, sungguh, bayangkan apa rasanya. Setelah membaca berita seperti itu, dan hari sebelumnya merasakan lapar bukan main, saya berjanji tidak akan membiarkan kelaparan terjadi nanti, setidaknya di tidak sekitar tanah tempat saya berdiri.

Sulit, sungguh sulit, untuk tahu bagaimana rasanya lapar ketika perut kita penuh dengan makanan. Untuk bersyukur ketika kenyang memang mudah., tapi beristighfar ketika lapar dan mengingat orang-orang kelaparan ketika kita kenyang, sangatlah susah. Rasulullah pernah bersabda, “makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang”. Banyak kajian secara medis yang mengaitkan dengan kapasitas lambung dan relevansinya secara biologis. Tapi, mari kita tempatkan hadits ini di konteks yang berbeda: tetaplah selalu lapar dan jangan pernah kenyang, agar kita selalu ingat apa rasanya lapar.

Selalu merasa lapar berarti membuka diri untuk empati akan rasa lapar yang mendera banyak orang yang tidak seberuntung kita. Sebagaimanapun sejahteranya kita, tetaplah lapar; setidaknya resapi rasa lapar yang murni sebelum makan, karena dengan itu kita bisa peduli. Merasa lapar meningkatkan rasa syukur kita terhadap makanan. Merasa lapar meningkatkan respon kita dalam memandang kemiskinan dan masalah sosial. Lapar mengingatkan kita bahwa kita bisa lemah, sekaligus mempertajam indera kita untuk memandang kelemahan yang ada di sekitar kita. Lapar menjadikan kita manusia dan menguatkan diri berbagi dengan manusia.

Stay hungry, stay foolish, kata Steve Jobs. Tetaplah bodoh agar kita haus akan ilmu dan selalu berupaya menjadi diri yang lebih baik. Lalu, tetaplah selalu lapar, agar kita sadar untuk berbagi dengan orang-orang yang hidupnya memang selalu lapar.

Leave a Reply