Segala Puji

Salah satu hal paling luar biasa dari orang yang saya ceritakan di post sebelumnya adalah kerendahan hatinya. Setiap ditanya capaian apapun, sekecil apapun, ia selalu mengawalinya dengan “Alhamdulillah, Allah kasih jalan”. Dia pernah bangkrut dan rugi di usia muda, lalu bangkit dan melejit dengan kejeliannya mengelola bisnis hingga omzet bulanan 2,5 Miliar dalam waktu singkat, tapi tidak ada satupun tendensi ego yang ia tampilkan. Bukan “yah begitulah kalau mau jadi pebisnis handal”, bukan pula “yah, berkat kerja keras saya”, tapi yang ia ucapkan adalah “Alhamdulillah, Allah yang memberikan jalan”. Berhadapan dengan orang sehebat dan serendah hati itu, tentu saja membuat saya bercermin: sudahkah cukupkah kata Alhamdulillah terucap dalam setiap pencapaian hidup saya?

Menariknya, saya juga bertemu dengan orang yang berkebalikan dengan itu. Bisnisnya yang cepat memiliki cabang dalam waktu 6 bulan, dia malah berujar “yah begitulah, harus gitu kalau berbisnis mah”, lalu disusul dengan menyebut daftar kekayaan dan asetnya. Padahal, cabang bisnisnya dibangun dengan sistem kemitraan yang, percayalah, tidak semuanya profitable. Aset-asetnya pun dibeli dengan kredit yang, percayalah, belum tentu semuanya terbayar dengan sehat. Tapi, dibandingkan dengan orang pertama yang saya ceritakan sebelumnya, tidak ada ucap puji syukur; justru diri sendiri yang dibanggakan. Dalam perspektif tertentu, ini menyedihkan.

Saya jadi membayangkan jika posisinya terbalik. Apa yang akan dikatakan orang yang memuji dirinya sendiri saat omzetnya sudah mencapai 2,5 Miliar per bulan? Saya rasa, dia akan semakin berbangga “lihat kerja keras saya, lihat apa yang saya capai”. Lalu, apa yang akan dikatakan orang yang memuji Allah saat bisnisnya masih compang-camping? Oh, dia sudah pernah mengalaminya, dan dia bilang “Allah akan memberikan jalan”. Maka, hingga bisnisnya membesar pun ia tetap berkata “Allah yang memberikan jalan”. Kata alhamdulillah ada di dalam konsep diri, bukan di besarnya materi.

Kata hamdalah adalah lambang optimisme, syukur, dan kerendahan hati yang menyatu. Hamdalah memberikan keyakinan untuk tetap memandang jauh ke depan dengan positif, karena Allah membersamai kita; lalu tetap mensyukuri apa yang ada. Hamdalah juga menjadi tameng yang melindungi kita dari kesombongan karena kita sadar bahwa semua terjadi karena kehendak yang mahakuasa. Hamdalah menjadi ujung dari ikhtiar dan tawakkal, yang menjadi garis finish perjuangan. Dan lebih dari itu, Hamdalah meletakkan segala puji pada tempatnya: Allah, sehingga niat paling mendasar kita tertuju bukan pada pujian yang semu tapi pada visi yang hakiki.

Semoga Allah membuka hati saya dan kita semua untuk selalu bisa menempatkan puja-puji di sebagaimana mestinya, dan dalam kondisi apapun mampu berkata ini dengan seluas hati: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.

One thought on “Segala Puji

Leave a Reply