Menyederhanakan Keinginan

Dulu saya sering kagum dengan pernyataan para pebisnis-pebisnis pemula tentang omzetnya yang melejit dengan cepat, atau tentang bisnisnya yang sangat pesat berkembang. “Omzet kami per tahun sudah 2 miliar”, katanya. Atau “kami sudah memiliki 8 cabang dalam 6 bulan”. Dulu saya sangat kagum dan iri dengan hal tersebut. Semakin lama saya terjun di bisnis, semakin saya sadar bahwa kebanyakan dari itu adalah omong kosong. Pernyataan tersebut hanya upaya meninggikan diri dengan hal yang tidak nyata; atau perkembangan dengan dasar yang rapuh.

Saya juga sempat terjangkiti hal semacam itu: meninggi-ninggikan kata yang tidak sesuai fakta. Untungnya, saya cepat disadarkan melalui pertemuan dengan orang-orang yang justru tinggi, tapi merendahkan hati. Saya bertemu dengan salah satunya di acara WMM-MYT kemarin. Bisnisnya cepat tumbuh, nyata, dan besar bukan main. Profit bersih bulanannya hampir 1 miliar. Saya bisa bilang begini, karena menyaksikan langsung tempat produksi bisnisnya; dan tidak ada satupun yang ia katakan lebih tinggi dari fakta. Yang menarik, kehidupannya sangat sederhana. Lebih memilih makan di warteg setiap harinya, rumah membeli seadanya, segala hal yang ia miliki hanya secukupnya. Beliau, yang usianya masih 4 tahun di atas saya, menceritakan bahwa dulu pernah terjebak dengan hal yang sama, tertipu dengan kemewahan dan keinginan yang tidak selaras dengan pendapatan. Keinginan akan hal-hal mewah menggerus perspektif kita dalam memandang kemampuan kita untuk mendapatkannya, dan itu sungguh menyengsarakan.

“Hidup sederhana itu enak banget, tenang, dan berkah”, katanya. Sungguh sangat meresap ke dalam hati saya. Saya banyak sekali melihat pemuda-mudi yang bisnisnya belum besar atau gajinya belum cukup, justru memprioritaskan kemewahan dengan membeli gadget atau barang mewah. Gaji/pendapatan baru 5 juta, tapi ganti ponsel setiap bulan. Beliau yang mengajarkan saya tentang kesederhanaan, justru yang saldo rekeningnya bertambah 1 miliar setiap bulannya. Kesederhanaan menjadi hal yang langka karena dihajar habis oleh propaganda konsumtif yang menghilangkan akal kita untuk ihwal materialistik.

Sederhana bukanlah soal memiliki apa, tapi soal menginginkan apa. Kesederhanaan ada dalam keinginan. Menyederhanakan keinginan berarti menyederhanakan kebahagiaan; dan semakin sederhana definisi kebahagiaan kita, semakin mudah kita meraihnya. Kesederhanaan adalah salah satu bahan bakar ketenangan hati, ketika jiwa kita tidak diburu nafsu untuk membeli, tapi justru memberi. Ketika harta dan kemewahan hanya menjadi alat untuk berbuat kebaikan, bukan menjadi tujuan hingga kita tega menanggalkan kebaikan. Dari orang-orang luar biasa, saya belajar: sederhanalah dalam keinginan, tapi “tamak”-lah dalam berbuat kebaikan.

6 thoughts on “Menyederhanakan Keinginan

  1. Pingback: Ternyata Tidak Sederhana | Gibran’s Notes

Leave a Reply