Bahagia dan Membahagiakan

Sepekan ini saya tidak sempat menulis. Selain memang karena jadwal acara Wirausaha Muda Mandiri yang sangat padat, saya lebih memilih memanfaatkan waktu luang untuk bersosialisasi dibandingkan mengaktualisasi diri (baca: menulis). Dari proses bergaul dengan rekan se-Indonesia itu saya mendapatkan banyak hal, baik dan buruk, sebagai bahan baku aktualisasi saya dalam beberapa hari ke depan. Karena itulah, selain sebagai bentuk konsekuensi karena tidak menulis rutin, saya akan menulis lebih banyak dari biasanya dalam sehari.

Pekan ini luar biasa, salah satu momentum once of a lifetime dalam hidup saya. Dengan segala keterbatasan dan ketidakterdugaan yang ada, saya menjadi pemenang I Mandiri Young Technopreneur 2012 kategori pangan dan pertanian. Ini hal yang aneh, karena saya tidak menaruh ekspektasi apapun sejak pertama kali mengajukan formulir. Benar-benar takjub rasanya ketika saya berada di posisi yang sama layaknya tokoh-tokoh muda yang luar biasa seperti Elang Gumilang pemilik 16 perumahan, Hendy Setiono owner Baba Rafi Group, dan Saptuari pemilik Jogist Store. Saya berada di panggung yang sama, dan menerima penghargaan yang satu level dengan mereka dulu.

Mendapatkan penghargaan yang disematkan langsung oleh Wakil Presiden, memang luar biasa. Mendapatkan dana project capital sebesar 1,5 M apalagi. Terlebih lagi mendapat banyak pujian atas ide dan inovasi yang sudah kita buat. Tapi, sungguh, semua hal itu tidak lebih menyenangkan dan menenangkan dibanding ungkapan-ungkapan turut berbahagia dari rekan dan keluarga di saat momentum kebahagiaan kita. Semakin banyak orang yang ikut merasakan kebahagiaan dari kebahagiaan kita, semakin kita berbahagia, dan begini memang adanya. Kebahagiaan tidak akan ada rasanya ketika orang sekeliling kita justru mengecam dan menyesalinya. Sebaliknya, kesedihan juga semakin memenjara jika orang-orang malah berbahagia dan puas saat kita mengalaminya.

Saya pernah memancang tujuan hidup berdasarkan capaian pribadi untuk memenuhi kepuasan diri. Saya juga pernah menganggap pujian atas hal yang kita lakukan sebagai indikator keberhasilan. Bagi saya sekarang, hal-hal itu hanya yang keseratus. Di akhir hari yang penuh dengan pencapaian materi dan gelimang pujian, kita hanya berharap adanya orang-orang yang mampu merasakan keluh dan mengusap peluh, melebihi apapun. Di akhir segala hal yang kita kejar dengan lelah, kita hanya mengharapkan orang-orang yang bisa sedih ketika kita sedih dan senang ketika kita senang. Kita hanya berharap jiwa hidup lain untuk berbagi kehidupan.

Ah, saya jadi ingat di suatu mentoring bisnis dan ditanya tentang tujuan hidup, saya dulu menjawab “Ingin orang-orang di sekitar saya bersyukur bahwa seorang Gibran Huzaifah pernah hidup”. Lucunya, mentor saya saat itu justru menganggap tujuan hidup saya kurang “layak” dan menyuruh saya membuat ulang tujuan itu dengan berapa perusahaan yang akan kita buat dan hal materialistik lain. Lebih lucunya lagi, saya justru manut. Sekarang, saya akan memugar salah satu tujuan hidup itu dan membubuhinya makna: “ketika saya mati kelak, orang yang mengenal saya akan mensyukuri bahwa saya pernah hidup di dunia”. Hingga itu menjadi salah satu alasan Allah ridha dan meridhai hidup saya; karena hal tersebut menjadi indikator bahwa yang dilakukan membekas makna dan harapan bagi kehidupan dan kemanusiaan. Semoga kita bisa menyadari, bahwa kemampuan membahagiakan adalah bagian dominan dari kebahagiaan.

Leave a Reply