Bergelimang Hampa

Hari ini saya berada di salah satu hotel mewah di Jakarta untuk mengikuti rangkaian kegiatan final Mandiri Young Technopreneur 2012. Karena memang kompetisi yang bonafide, satu kelompok diberi satu kamar. Sialnya, karena saya mengajukan atas nama individu, saya hanya sendiri di kamar. Sendirian di hotel mewah Jakarta.

Enak? Sangat. Semua fasilitas lengkap. Saya yang lahir di pinggir pasar Pulogadung ini jarang sekali –jika dikatakan tidak pernah- menginap di hotel, apalagi hotel mewah. Excited, senang. Bisa berendam air hangat sambil baca buku dan minum kopi. Santai di kasur king size empuk sambil nonton TV kabel. Ganteng sekali, mirip Christian Bale di American Psycho, hanya saja minus wanita dan adegan pembunuhan sadis, tapi tetap ganteng. Namun, itu hanya di awal. Satu momen saya melihat mewahnya kota jakarta dari jendela kamar, sambil memandangi gedung-gedung pencakar. Dengan dramatis, saya membayangkan menjadi pemilik gedung tertinggi dan memiliki kantor serta penthouse di lantai paling puncak, sembari mengagumi Jakarta dari ketinggian. Lalu, saat saya berbalik dan melihat isi kamar yang kosong, tiba-tiba rasa pilu berbisik perlahan, pedih. Lagi-lagi kehampaan muncul, secara tiba-tiba. Perasaannya sederhana: saat saya membayangkan menggenggam segala materi yang bisa diraih, nyatanya saya merasa tidak punya apa-apa jika tidak memiliki siapa-siapa.

Memori masa kecil saya bangkit. Ingat rasanya tinggal di ruangan 4×7 meter dari papan multiplex dan seng di bilangan Pulogadung; rumah kontrakan saya ketika TK. Tidak ada ruang tamu. Kasur kecil murah dari kapuk untuk tidur bertiga. Kamar mandi dari seng, dapur 6S (sangat sederhana sekali sampai sedikit sesak). Tidak ada AC, tidak ada kulkas, apalagi mesin cuci. Yang ada hanya TV 14 inci dan radio. Miris? Secara materi, ya. Tapi apa terasa sedih, hampa? Tidak, tidak sama sekali. Suasana selalu riang karena tiap hari teman sebaya selalu main gundu, main karet, atau petak jongkok di luar pintu, hingga tawanya terdengar riuh ke dalam. Hanya butuh 2 menit jalan kaki untuk saya bisa merasakan hangatnya kasih nenek dan kakek serta om dan tante. Di kasur yang kecil, kami bertiga (saya, ayah, dan ibu) bisa tidur nyaman sambil berpelukan. Belum lagi dua tahun kemudian keramaian ditambah adik kecil yang baru lahir. Tidak sekalipun ada kekosongan dalam keterbatasan itu; karena di dalamnya selalu ada kehangatan. Kehangatan itu hadir dari sentuhan-sentuhan sayang antar-manusia.

Kemewahan mengingatkan saya akan betapa tidak berharganya harta jika tanpa cinta yang nyata. Mencintai dan menggilai harta adalah hal terkonyol yang bisa dilakukan oleh manusia. Uang dan kekayaan tidak bisa membeli kebahagiaan, karena itu milikilah seperlunya, kumpulkanlah sewajarnya. Maka saya mengerti mengapa pengusaha multinasional di jaman Rasulullah seperti Abu Bakar dan Abdurrahman ibn Auf bisa dengan mudahnya mewakafkan segenap harta mereka, karena ada yang jauh lebih berharga dan bermakna dari itu. Bodoh sekali jika ada anak yang menghabiskan sebagian besar waktu untuk mencari uang hingga menjadikannya alasan untuk jarang menjenguk ibunya, sama bodohnya dengan suami yang menelantarkan waktu bersama anak-istri hanya untuk mencari materi. Konsep tujuan karir dan bisnis harus diperbaiki: bukan untuk sekadar mencari materi, tapi justru menjadi alat untuk mewujudkan kebahagiaan sekitar dan diri sendiri.

Maka, kembali saya mendoakan diri saya sendiri agar bisa menerapkan slogan ini: “be who you are, do what you love, and HAVE what you NEEД.

One thought on “Bergelimang Hampa

Leave a Reply