Anti Madesu

Saya sering berdiskusi dengan anak-anak muda, baik mahasiswa maupun alumni fresh graduate, tentang rencana hidup dan masa depan. Sayangnya, banyak sekali jawaban-jawaban yang memprihatinkan, seperti “aduh, entahlah, suram euy masa depan”, atau “lihat aja kemana angin bertiup”. Memprihatinkan, karena bahkan perencanaan, mimpi, visi, yang menjadi milik pribadi dan murah harganya saja tidak punya, bagaimana bisa memberikan aksi yang nyata. Banyak sekali pemuda-pemudi yang tak mampu menyalakan lentera untuk tapak jalannya sendiri. Makanya masa depan terasa suram.

Kenapa masa depan terasa suram? Karena pandangan kita ke depan buram. Kenapa pandangan kita ke depan buram? Karena pemahaman terhadap potensi dan panggilan hati yang kita miliki sekarang semakin kelam. Hidup itu sesederhana cinta dan kebahagiaan: bukan soal dari mana atau dari siapa kita meraihnya, yang penting kita bisa merasakannya. Karir dan masa depan pun demikian. Tidak perlu risau soal gelar sarjana atau basis keilmuan, atau perusahaan apa dan bisnis apa yang akan kita lakukan, selama kita tahu apa yang kita cinta dan apa yang kita damba, maka kita tinggal merealisasikannya. Kejar saja habis-habisan apa saja yang meresahkan diri kita jika tidak mencapainya, dan refleksikan dengan kejujuran nurani yang akan melindungi kita dari pelanggaran norma. Jika sudah ada, berupayalah, capailah, dan berbahagialah.

Mudahkah melakukan itu? Nampaknya sulit. Sulit, karena kita terlalu banyak takut dan mengkhawatirkan segala hal. Worry less, feel more. Kata Steve Jobs saja, “You can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards”. Yang perlu Anda lakukan, kata Om Jobs lagi, adalah meyakini suatu hal; nyali, karma, takdir, apapun itu. Menjalani masa depan semudah meyakini apa yang kita cintai, memimpikan apa yang kita yakini, dan meraihnya tanpa lelah. Hal-hal besar dan kecil menanti untuk dilakukan. Masalah besar dan kecil menunggu untuk diselesaikan. Cukup dengan kepedulian dan kemauan untuk memberikan sesuatu dalam kehidupan lah kita dapat menjalankan masa depan yang bermakna.

Ada anekdot menarik dari teman saya. Dia bilang “selama ini saya merasa menjadi mesin yang efisiensinya rendah: makan banyak, tapi produktivitasnya kecil, makanya saya mau berubah”. Itu pernyataan paling menarik dan inspiratif yang saya dapatkan hari ini. Jangan, sungguh, jangan jadi makhluk inefisien. Selalu makan, menghabiskan oksigen, menyerap energi matahari, tapi tidak melakukan dan menghasilkan hal yang signifikan. Apa gunanya hidup di dunia menghabiskan masa kemudian mati tanpa meninggalkan makna? Dari anekdot sederhana itu saya belajar, jurus anti madesu adalah menyadari bahwa kita makhluk yang harus berbuat dan menghasilkan sesuatu. Anti madesu semudah kita melihat ke cermin dengan pandangan dan pertanyaan jujur: “Apa yang bisa saya lakukan sebelum saya mati?”, lalu tempatkanlah mimpi, cinta, dan makna di dalamnya. Ya, untuk anti madesu, memang semudah itu.

 

Generasi Sejarah Baru

Generasi kita seharusnya adalah generasi optimistis. Semasa kita hidup, kita melihat banyak perubahan-perubahan radikal yang mencetak sejarah baru, yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Ini sudah seharusnya meruntuhkan pola pikir kita untuk tidak hidup mengikuti sejarah masa lalu, tetapi mencetak sejarah baru dan melakukan dobrakan. Generasi kita adalah generasi sejarah baru.

Apa sejarah pernah mencatat ada pemain sepakbola yang meraih penghargaan pemain terbaik dunia selama 4 kali berturut-turut? Tidak. Sejarah pun terkejut, bahwa lelaki pendek dari Argentina bernama Lionel Messi bisa melakukan keajaiban. Permainannya, kejeniusannya, tekniknya, dan kemampuan mencetak golnya tidak pernah sekalipun ditemui oleh generasi manapun; tapi generasi kita diberikan kesempatan untuk melihat itu: sejarah baru yang tercatat. Kita diperlihatkan bahwa membuat sejarah baru dan menjadi sosok yang lebih besar dibandingkan sejarah adalah hal yang mungkin, maka kenapa tidak Anda lakukan?

Dalam bisnis, lebih banyak lagi dobrakan. Apa Anda pernah membayangkan bahwa pemuda 25 tahun bisa kaya raya hanya dari membuat situs? Sekarang, kita mampu berkata, iya. Mark Zuckerberg membuktikannya. Mahakarya Facebook-nya mampu menjaring ratusan juta penduduk dunia untuk berinteraksi dan menjadikannya perusahaan raksasa dalam usia yang sangat muda. Steve Jobs memperlihatkan dengan cara lain. Pasca reuni di Apple pada pertengahan dekade 90an, Jobs memperlihatkan keajaiban dalam teknologi dan bisnis dengan kesuksesan tiada tanding bagi produk-produk larisnya yang mampu menghasilkan jutaan dollar dalam satu pekan: iPhone dan iPad. Gebrakan cara baru berlandaskan kreativitas yang orisinil, seharusnya memberikan kita keberanian untuk mencoba cara-cara yang belum pernah ada sebelumnya.

Bukti lain lebih banyak lagi. Generasi kita menyaksikan bahwa orang kulit hitam bisa menjadi presiden negara adidaya, yang belum pernah ada sebelumnya. Generasi kita menjadi saksi robot pertama yang mendarat di Mars. Generasi kita melihat bagaimana rezim-rezim otoritarian bisa runtuh dengan pergerakan sosial. Generasi kita membaca penemuan-penemuan luar biasa dalam sains dan pengetahuan. Generasi kita menjadi pelaku untuk mengubah dunia nyata melalui gerakan petisi dunia maya. Generasi kita merasakan perubahan pola pikir dunia. Generasi kita adalah generasi optimistis, generasi sejarah baru. Lalu, mengapa masih dihabiskan dengan galau yang sia-sia? Mengapa menjejaki jalan-jalan yang sudah menipis karena terlalu banyak tergesek langkah orang lain sebelumnya? Mengapa tidak membuat perubahan besar dan memberi manfaat seluas-luasnya?

 

Revisi Alasan

Kehidupan adalah sekumpulan alasan. Kehidupan kita hanya diisi oleh kedua hal ini: melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Dan hal paling mendasar dari melakukan atau tidak melakukan adalah alasan. Kita selalu punya sekurang-kurangnya satu alasan untuk bergerak atau untuk diam; untuk terlelap atau terjaga, untuk berjalan atau berlari, untuk hidup atau mati. Alasan ini bisa datang dari dalam atau diadopsi dari luar. Alasan ini bisa mendalam dan kokoh, bisa juga dangkal. Tapi, kita selalu punya alasan, karena kehidupan adalah sekumpulan alasan.

Sekalipun memiliki seribu alasan untuk tidak melakukan sesuatu, terkadang kita hanya butuh satu alasan kontradiktif untuk melakukannya, dan semudah itulah naluri kita mengambil keputusan. Tuliskan seribu alasan Anda untuk tidak berjalan dari satu gedung 100 lantai ke gedung lainnya dengan menggunakan kabel baja: karena itu tindakan bodoh, takut mati, takut ketinggian, tidak berpengalaman, tidak ada gunanya, dan lain-lain. Tapi jika saya HARUS melakukan itu dengan ancaman ibu saya dibunuh, maka saya tidak akan berpikir panjang untuk menyeberangi gedung pencakar. Pemecah rekor dunia juga melakukan hal tersebut hanya untuk kepuasan dan pembuktian diri. Kita hanya butuh satu alasan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Kebijaksanaan dalam hidup adalah menempatkan alasan yang tepat pada tindakan yang tepat, dan alasan yang benar pada tindakan yang besar. Mulia atau hinanya alasan akan menjadi rahim bagi ide mulia atau hina berkembang. Makna selalu ada di dalam alasan, karena itulah Allah melihat tindakan bukan dari tindakannya, tapi dari alasannya. Kemuliaan tindakan ada di dalam alasan. Mari bayangkan ada satu orang peserta Indonesia Mengajar yang pergi ke pedalaman untuk menebar ilmu dan kebaikan bagi anak masa depan Indonesia, lalu ada satu orang lagi pergi untuk mempercantik CV agar bisa lancar kelak di dunia kerja. Tindakan yang sama, mana yang dianggap lebih mulia, dan mana pula yang lebih bermakna?

Akan tetapi, hidup itu menarik: karena selama nyawa masih terisi, alasan masih bisa direvisi. Dulu seseorang ingin menjadi entrepreneur agar bisa menjadi kaya, lalu berubah agar bisa membantu sesama, lalu berubah agar bisa beribadah kepada-Nya. Alasan bisa direvisi, menjadi semakin mulia, semakin kokoh. Jika ini terjadi, di akhir waktu kita akan menemukan bahwa tindakan yang sama ternyata semakin lama menggurat lebih banyak makna. Makna dari tindakan ditentukan oleh alasan; maka temukanlah alasan yang tepat untuk tindakan yang tepat, dan alasan yang benar untuk tindakan yang besar.

Dalam hidup, saya mencari kebahagiaan dan makna dalam perbuatan, yang saya rasa bisa ditemukan dari tingginya alasan. Sudah benarkah alasan saya? Saya rasa tidak, karena masih didasari oleh pragmatisme dan egoisme yang rendah. Tapi saya selalu berdoa, bahwa sebelum nyawa saya dicabut kelak, Allah memberikan saya kesempatan untuk memuarakan alasan kepada-Nya dalam setiap diam dan gerak.

 

Mari Selalu Lapar

Beberapa hari kemarin, saya 10 hari menginap di Hotel The Sultan. Mewah. Yang paling menarik adalah makanannya yang selalu terjamin dengan kualitas bintang lima. Makan terjadwal, selalu kenyang, dan enak. Di satu hari, saya lupa makan. Waktu sudah hampir malam, tapi saya belum makan siang. Karena terbiasa makan enak dan rutin di hotel bintang lima, rasa laparnya terasa saya lebih-lebihkan, layaknya korban kemarau di Ethiopia. Ironisnya, saat lapar (yang sebenarnya tidak terlalu lapar) seperti itu, saya membaca kondisi pengungsi banjir di suatu wilayah yang berebut makanan karena kekurangan. Banyak sekali warga yang kelaparan dan anak-anak yang tidak makan di sekitar saya pada waktu yang sama. Membaca hal itu, saya sedih dan malu merasa lapar hanya karena terlewat satu jadwal makan; saya malu jika tidak prihatin. Tiba-tiba saya tidak mau tidak lapar.

Saya jadi ingat, salah satu mimpi saya untuk jadi pengusaha adalah memberantas kelaparan. Di bulan Ramadhan pertama saya sebagai mahasiswa, saya merasakan kelaparan untuk pertama kalinya. Suatu hari saya kesiangan sahur, berangkat kuliah seharian sampai jam 5, tidak bisa buka puasa, dan tidak juga bisa sahur di hari berikutnya karena tidak ada uang, lalu baru makan jam 8 malam setelah uang dikirim orang tua. Lebih dari 36 jam tidak ada satu makanan pun yang masuk ke kerongkongan. Rasa lapar yang saya rasakan hampir membuat limbung, nyaris pingsan. Alhamdulillah Allah masih memberikan saya kesempatan untuk berefleksi. Tepat esok harinya, saya membaca berita tentang orang yang mati kelaparan di suatu daerah. Bayangkan: Anda lapar, lapar sekali, sampai rasa lapar membuat Anda tidak bergerak dan energi di otak habis. Anda lapar sampai mati, sungguh, bayangkan apa rasanya. Setelah membaca berita seperti itu, dan hari sebelumnya merasakan lapar bukan main, saya berjanji tidak akan membiarkan kelaparan terjadi nanti, setidaknya di tidak sekitar tanah tempat saya berdiri.

Sulit, sungguh sulit, untuk tahu bagaimana rasanya lapar ketika perut kita penuh dengan makanan. Untuk bersyukur ketika kenyang memang mudah., tapi beristighfar ketika lapar dan mengingat orang-orang kelaparan ketika kita kenyang, sangatlah susah. Rasulullah pernah bersabda, “makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang”. Banyak kajian secara medis yang mengaitkan dengan kapasitas lambung dan relevansinya secara biologis. Tapi, mari kita tempatkan hadits ini di konteks yang berbeda: tetaplah selalu lapar dan jangan pernah kenyang, agar kita selalu ingat apa rasanya lapar.

Selalu merasa lapar berarti membuka diri untuk empati akan rasa lapar yang mendera banyak orang yang tidak seberuntung kita. Sebagaimanapun sejahteranya kita, tetaplah lapar; setidaknya resapi rasa lapar yang murni sebelum makan, karena dengan itu kita bisa peduli. Merasa lapar meningkatkan rasa syukur kita terhadap makanan. Merasa lapar meningkatkan respon kita dalam memandang kemiskinan dan masalah sosial. Lapar mengingatkan kita bahwa kita bisa lemah, sekaligus mempertajam indera kita untuk memandang kelemahan yang ada di sekitar kita. Lapar menjadikan kita manusia dan menguatkan diri berbagi dengan manusia.

Stay hungry, stay foolish, kata Steve Jobs. Tetaplah bodoh agar kita haus akan ilmu dan selalu berupaya menjadi diri yang lebih baik. Lalu, tetaplah selalu lapar, agar kita sadar untuk berbagi dengan orang-orang yang hidupnya memang selalu lapar.

Segala Puji

Salah satu hal paling luar biasa dari orang yang saya ceritakan di post sebelumnya adalah kerendahan hatinya. Setiap ditanya capaian apapun, sekecil apapun, ia selalu mengawalinya dengan “Alhamdulillah, Allah kasih jalan”. Dia pernah bangkrut dan rugi di usia muda, lalu bangkit dan melejit dengan kejeliannya mengelola bisnis hingga omzet bulanan 2,5 Miliar dalam waktu singkat, tapi tidak ada satupun tendensi ego yang ia tampilkan. Bukan “yah begitulah kalau mau jadi pebisnis handal”, bukan pula “yah, berkat kerja keras saya”, tapi yang ia ucapkan adalah “Alhamdulillah, Allah yang memberikan jalan”. Berhadapan dengan orang sehebat dan serendah hati itu, tentu saja membuat saya bercermin: sudahkah cukupkah kata Alhamdulillah terucap dalam setiap pencapaian hidup saya?

Menariknya, saya juga bertemu dengan orang yang berkebalikan dengan itu. Bisnisnya yang cepat memiliki cabang dalam waktu 6 bulan, dia malah berujar “yah begitulah, harus gitu kalau berbisnis mah”, lalu disusul dengan menyebut daftar kekayaan dan asetnya. Padahal, cabang bisnisnya dibangun dengan sistem kemitraan yang, percayalah, tidak semuanya profitable. Aset-asetnya pun dibeli dengan kredit yang, percayalah, belum tentu semuanya terbayar dengan sehat. Tapi, dibandingkan dengan orang pertama yang saya ceritakan sebelumnya, tidak ada ucap puji syukur; justru diri sendiri yang dibanggakan. Dalam perspektif tertentu, ini menyedihkan.

Saya jadi membayangkan jika posisinya terbalik. Apa yang akan dikatakan orang yang memuji dirinya sendiri saat omzetnya sudah mencapai 2,5 Miliar per bulan? Saya rasa, dia akan semakin berbangga “lihat kerja keras saya, lihat apa yang saya capai”. Lalu, apa yang akan dikatakan orang yang memuji Allah saat bisnisnya masih compang-camping? Oh, dia sudah pernah mengalaminya, dan dia bilang “Allah akan memberikan jalan”. Maka, hingga bisnisnya membesar pun ia tetap berkata “Allah yang memberikan jalan”. Kata alhamdulillah ada di dalam konsep diri, bukan di besarnya materi.

Kata hamdalah adalah lambang optimisme, syukur, dan kerendahan hati yang menyatu. Hamdalah memberikan keyakinan untuk tetap memandang jauh ke depan dengan positif, karena Allah membersamai kita; lalu tetap mensyukuri apa yang ada. Hamdalah juga menjadi tameng yang melindungi kita dari kesombongan karena kita sadar bahwa semua terjadi karena kehendak yang mahakuasa. Hamdalah menjadi ujung dari ikhtiar dan tawakkal, yang menjadi garis finish perjuangan. Dan lebih dari itu, Hamdalah meletakkan segala puji pada tempatnya: Allah, sehingga niat paling mendasar kita tertuju bukan pada pujian yang semu tapi pada visi yang hakiki.

Semoga Allah membuka hati saya dan kita semua untuk selalu bisa menempatkan puja-puji di sebagaimana mestinya, dan dalam kondisi apapun mampu berkata ini dengan seluas hati: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Menyederhanakan Keinginan

Dulu saya sering kagum dengan pernyataan para pebisnis-pebisnis pemula tentang omzetnya yang melejit dengan cepat, atau tentang bisnisnya yang sangat pesat berkembang. “Omzet kami per tahun sudah 2 miliar”, katanya. Atau “kami sudah memiliki 8 cabang dalam 6 bulan”. Dulu saya sangat kagum dan iri dengan hal tersebut. Semakin lama saya terjun di bisnis, semakin saya sadar bahwa kebanyakan dari itu adalah omong kosong. Pernyataan tersebut hanya upaya meninggikan diri dengan hal yang tidak nyata; atau perkembangan dengan dasar yang rapuh.

Saya juga sempat terjangkiti hal semacam itu: meninggi-ninggikan kata yang tidak sesuai fakta. Untungnya, saya cepat disadarkan melalui pertemuan dengan orang-orang yang justru tinggi, tapi merendahkan hati. Saya bertemu dengan salah satunya di acara WMM-MYT kemarin. Bisnisnya cepat tumbuh, nyata, dan besar bukan main. Profit bersih bulanannya hampir 1 miliar. Saya bisa bilang begini, karena menyaksikan langsung tempat produksi bisnisnya; dan tidak ada satupun yang ia katakan lebih tinggi dari fakta. Yang menarik, kehidupannya sangat sederhana. Lebih memilih makan di warteg setiap harinya, rumah membeli seadanya, segala hal yang ia miliki hanya secukupnya. Beliau, yang usianya masih 4 tahun di atas saya, menceritakan bahwa dulu pernah terjebak dengan hal yang sama, tertipu dengan kemewahan dan keinginan yang tidak selaras dengan pendapatan. Keinginan akan hal-hal mewah menggerus perspektif kita dalam memandang kemampuan kita untuk mendapatkannya, dan itu sungguh menyengsarakan.

“Hidup sederhana itu enak banget, tenang, dan berkah”, katanya. Sungguh sangat meresap ke dalam hati saya. Saya banyak sekali melihat pemuda-mudi yang bisnisnya belum besar atau gajinya belum cukup, justru memprioritaskan kemewahan dengan membeli gadget atau barang mewah. Gaji/pendapatan baru 5 juta, tapi ganti ponsel setiap bulan. Beliau yang mengajarkan saya tentang kesederhanaan, justru yang saldo rekeningnya bertambah 1 miliar setiap bulannya. Kesederhanaan menjadi hal yang langka karena dihajar habis oleh propaganda konsumtif yang menghilangkan akal kita untuk ihwal materialistik.

Sederhana bukanlah soal memiliki apa, tapi soal menginginkan apa. Kesederhanaan ada dalam keinginan. Menyederhanakan keinginan berarti menyederhanakan kebahagiaan; dan semakin sederhana definisi kebahagiaan kita, semakin mudah kita meraihnya. Kesederhanaan adalah salah satu bahan bakar ketenangan hati, ketika jiwa kita tidak diburu nafsu untuk membeli, tapi justru memberi. Ketika harta dan kemewahan hanya menjadi alat untuk berbuat kebaikan, bukan menjadi tujuan hingga kita tega menanggalkan kebaikan. Dari orang-orang luar biasa, saya belajar: sederhanalah dalam keinginan, tapi “tamak”-lah dalam berbuat kebaikan.

Bahagia dan Membahagiakan

Sepekan ini saya tidak sempat menulis. Selain memang karena jadwal acara Wirausaha Muda Mandiri yang sangat padat, saya lebih memilih memanfaatkan waktu luang untuk bersosialisasi dibandingkan mengaktualisasi diri (baca: menulis). Dari proses bergaul dengan rekan se-Indonesia itu saya mendapatkan banyak hal, baik dan buruk, sebagai bahan baku aktualisasi saya dalam beberapa hari ke depan. Karena itulah, selain sebagai bentuk konsekuensi karena tidak menulis rutin, saya akan menulis lebih banyak dari biasanya dalam sehari.

Pekan ini luar biasa, salah satu momentum once of a lifetime dalam hidup saya. Dengan segala keterbatasan dan ketidakterdugaan yang ada, saya menjadi pemenang I Mandiri Young Technopreneur 2012 kategori pangan dan pertanian. Ini hal yang aneh, karena saya tidak menaruh ekspektasi apapun sejak pertama kali mengajukan formulir. Benar-benar takjub rasanya ketika saya berada di posisi yang sama layaknya tokoh-tokoh muda yang luar biasa seperti Elang Gumilang pemilik 16 perumahan, Hendy Setiono owner Baba Rafi Group, dan Saptuari pemilik Jogist Store. Saya berada di panggung yang sama, dan menerima penghargaan yang satu level dengan mereka dulu.

Mendapatkan penghargaan yang disematkan langsung oleh Wakil Presiden, memang luar biasa. Mendapatkan dana project capital sebesar 1,5 M apalagi. Terlebih lagi mendapat banyak pujian atas ide dan inovasi yang sudah kita buat. Tapi, sungguh, semua hal itu tidak lebih menyenangkan dan menenangkan dibanding ungkapan-ungkapan turut berbahagia dari rekan dan keluarga di saat momentum kebahagiaan kita. Semakin banyak orang yang ikut merasakan kebahagiaan dari kebahagiaan kita, semakin kita berbahagia, dan begini memang adanya. Kebahagiaan tidak akan ada rasanya ketika orang sekeliling kita justru mengecam dan menyesalinya. Sebaliknya, kesedihan juga semakin memenjara jika orang-orang malah berbahagia dan puas saat kita mengalaminya.

Saya pernah memancang tujuan hidup berdasarkan capaian pribadi untuk memenuhi kepuasan diri. Saya juga pernah menganggap pujian atas hal yang kita lakukan sebagai indikator keberhasilan. Bagi saya sekarang, hal-hal itu hanya yang keseratus. Di akhir hari yang penuh dengan pencapaian materi dan gelimang pujian, kita hanya berharap adanya orang-orang yang mampu merasakan keluh dan mengusap peluh, melebihi apapun. Di akhir segala hal yang kita kejar dengan lelah, kita hanya mengharapkan orang-orang yang bisa sedih ketika kita sedih dan senang ketika kita senang. Kita hanya berharap jiwa hidup lain untuk berbagi kehidupan.

Ah, saya jadi ingat di suatu mentoring bisnis dan ditanya tentang tujuan hidup, saya dulu menjawab “Ingin orang-orang di sekitar saya bersyukur bahwa seorang Gibran Huzaifah pernah hidup”. Lucunya, mentor saya saat itu justru menganggap tujuan hidup saya kurang “layak” dan menyuruh saya membuat ulang tujuan itu dengan berapa perusahaan yang akan kita buat dan hal materialistik lain. Lebih lucunya lagi, saya justru manut. Sekarang, saya akan memugar salah satu tujuan hidup itu dan membubuhinya makna: “ketika saya mati kelak, orang yang mengenal saya akan mensyukuri bahwa saya pernah hidup di dunia”. Hingga itu menjadi salah satu alasan Allah ridha dan meridhai hidup saya; karena hal tersebut menjadi indikator bahwa yang dilakukan membekas makna dan harapan bagi kehidupan dan kemanusiaan. Semoga kita bisa menyadari, bahwa kemampuan membahagiakan adalah bagian dominan dari kebahagiaan.

Bergelimang Hampa

Hari ini saya berada di salah satu hotel mewah di Jakarta untuk mengikuti rangkaian kegiatan final Mandiri Young Technopreneur 2012. Karena memang kompetisi yang bonafide, satu kelompok diberi satu kamar. Sialnya, karena saya mengajukan atas nama individu, saya hanya sendiri di kamar. Sendirian di hotel mewah Jakarta.

Enak? Sangat. Semua fasilitas lengkap. Saya yang lahir di pinggir pasar Pulogadung ini jarang sekali –jika dikatakan tidak pernah- menginap di hotel, apalagi hotel mewah. Excited, senang. Bisa berendam air hangat sambil baca buku dan minum kopi. Santai di kasur king size empuk sambil nonton TV kabel. Ganteng sekali, mirip Christian Bale di American Psycho, hanya saja minus wanita dan adegan pembunuhan sadis, tapi tetap ganteng. Namun, itu hanya di awal. Satu momen saya melihat mewahnya kota jakarta dari jendela kamar, sambil memandangi gedung-gedung pencakar. Dengan dramatis, saya membayangkan menjadi pemilik gedung tertinggi dan memiliki kantor serta penthouse di lantai paling puncak, sembari mengagumi Jakarta dari ketinggian. Lalu, saat saya berbalik dan melihat isi kamar yang kosong, tiba-tiba rasa pilu berbisik perlahan, pedih. Lagi-lagi kehampaan muncul, secara tiba-tiba. Perasaannya sederhana: saat saya membayangkan menggenggam segala materi yang bisa diraih, nyatanya saya merasa tidak punya apa-apa jika tidak memiliki siapa-siapa.

Memori masa kecil saya bangkit. Ingat rasanya tinggal di ruangan 4×7 meter dari papan multiplex dan seng di bilangan Pulogadung; rumah kontrakan saya ketika TK. Tidak ada ruang tamu. Kasur kecil murah dari kapuk untuk tidur bertiga. Kamar mandi dari seng, dapur 6S (sangat sederhana sekali sampai sedikit sesak). Tidak ada AC, tidak ada kulkas, apalagi mesin cuci. Yang ada hanya TV 14 inci dan radio. Miris? Secara materi, ya. Tapi apa terasa sedih, hampa? Tidak, tidak sama sekali. Suasana selalu riang karena tiap hari teman sebaya selalu main gundu, main karet, atau petak jongkok di luar pintu, hingga tawanya terdengar riuh ke dalam. Hanya butuh 2 menit jalan kaki untuk saya bisa merasakan hangatnya kasih nenek dan kakek serta om dan tante. Di kasur yang kecil, kami bertiga (saya, ayah, dan ibu) bisa tidur nyaman sambil berpelukan. Belum lagi dua tahun kemudian keramaian ditambah adik kecil yang baru lahir. Tidak sekalipun ada kekosongan dalam keterbatasan itu; karena di dalamnya selalu ada kehangatan. Kehangatan itu hadir dari sentuhan-sentuhan sayang antar-manusia.

Kemewahan mengingatkan saya akan betapa tidak berharganya harta jika tanpa cinta yang nyata. Mencintai dan menggilai harta adalah hal terkonyol yang bisa dilakukan oleh manusia. Uang dan kekayaan tidak bisa membeli kebahagiaan, karena itu milikilah seperlunya, kumpulkanlah sewajarnya. Maka saya mengerti mengapa pengusaha multinasional di jaman Rasulullah seperti Abu Bakar dan Abdurrahman ibn Auf bisa dengan mudahnya mewakafkan segenap harta mereka, karena ada yang jauh lebih berharga dan bermakna dari itu. Bodoh sekali jika ada anak yang menghabiskan sebagian besar waktu untuk mencari uang hingga menjadikannya alasan untuk jarang menjenguk ibunya, sama bodohnya dengan suami yang menelantarkan waktu bersama anak-istri hanya untuk mencari materi. Konsep tujuan karir dan bisnis harus diperbaiki: bukan untuk sekadar mencari materi, tapi justru menjadi alat untuk mewujudkan kebahagiaan sekitar dan diri sendiri.

Maka, kembali saya mendoakan diri saya sendiri agar bisa menerapkan slogan ini: “be who you are, do what you love, and HAVE what you NEEД.

Inspirasi, bukan Jelangkung

Pertama kali membuat resolusi One Day One Post setiap hari Senin-Jumat, saya sempat skeptis. Selain memang langkanya konsistensi dalam hidup saya beberapa tahun terakhir, inspirasi pun kerapkali kering. Bagaimana bisa tiba-tiba langsung menulis rutin harian sedangkan sebelumnya menulis hanya setahun sekali? Skeptisisme ini kemudian dijawab oleh Kek Jamil Azzaini yang mampu menulis tulisan kaya makna tiap hari atau Rene Suhardono yang harus mengisi kolom rutin dengan penuh passion di Kompas: bahwa inspirasi harus dicari, dan itu tidak mustahil.

Inspirasi datang dari hal-hal yang kecil. Seorang koboi yang berjalan di rerumputan lalu kesal karena banyak rumput-rumput yang melekat di kain celananya, justru mendapatkan inspirasi untuk membuat perekat non-kohesif yang biasa diaplikasikan di dompet atau celana orang-orang di seluruh dunia (prepetan). Titik transformasi estetika terbesar di dunia komputer hadir dari inspirasi seorang Steve Jobs dari kuliah sit-in tentang kaligrafi. Inspirasi datang dari hal-hal yang kecil, dan keseharian kita diwujud oleh sekumpulan banyak hal kecil. Hal kecil yang dimaknai mampu memunculkan hikmah dan inspirasi. Sebesar apa kita bisa mengoleksi inspirasi dari hal kecil sehari-hari?

Inspirasi datang dari interaksi. Saya meyakini, setiap manusia memiliki pengetahuan dan pengalaman yang spesifik dan saling mengungguli. Seorang profesor di bidang Fisika Kuantum tidak memiliki pengetahuan beternak seperti peternak kambing di desa dengan pengalaman 25 tahun, begitu pula sebaliknya. Spesifik dan unggulnya pengetahuan dan pengalaman masing-masing manusia dapat menjadi sumber inspirasi. Hari ini saya mendapatkan inspirasi dari pebisnis ternak tentang kebijaksanaan bisnis, dari Syekh Afrika Selatan yang saya temui di pom bensin tentang makna kematian, dan dari kawan-kawan mastermind tentang prospek usaha. Inspirasi yang berharga ini mengandung kebijaksanaan mendalam yang bisa digali.

Inspirasi datang dari refleksi diri. Hal positif dan negatif yang kita lakukan sehari-hari mendesirkan inspirasi; untuk melakukan kebaikan lebih atau memperbaiki kekurangan. Dari malunya diri sendiri ketika diminta membeli bra oleh istrinya, Roy Raymond mendapatkan inspirasi untuk mendirikan outlet lingerie bernama Victoria’s Secret, yang 15 tahun kemudian menjadi perusahaan besar bernilai US$ 500.000.000,00. Thomas Edison mendapatkan inspirasi tentang cara salah membuat lampu pijar dari setiap kegagalan yang ia dapatkan di hari itu. Langkah-langkah hari kita pun bisa menjadi sumber inspirasi.

Terlepas dari itu semua, saya meyakini bahwa Allah adalah sumber inspirasi. Dan inspirasi tersebut ditebar di langit dan bumi: mewujud benih yang menjadi pepohonan yang meneduhkan atau menjadi bintang bercaya yang mengindahkan. Seluas makna dan bentuknya, inspirasi hanya mampu dipetik oleh ia yang berupaya. Bagi saya, inspirasi bukan jelangkung, yang seketika datang tanpa jemputan dan pulang tanpa antaran.

To Infinity and Beyond!

Uniknya menjadi manusia adalah kemampuan menembus batas. Batas-batas manusiawi bisa kita runtuhkan sehingga menjadikan kita sangat lebih atau sangat kurang. Manusia bisa lebih mulia dari malaikat, tapi juga bisa lebih hina dari binatang. Hal sedemikian bisa terjadi sebagai implikasi dari tergesernya batas-batas, cepat atau lambat.

Batasan diri kita bisa digoyah. Dari batas aksi hingga mimpi, dari batas intelektual hingga moral. Sejarah pun dulu tidak pernah mengimajinasikan bahwa akan ada benda besi yang bisa membawa manusia berkeliling dunia melalui udara, tapi manusia bisa. Kulit bumi tak pernah tahu tentang gaya gravitasi yang menjatuhkan apel ke arahnya, tapi manusia tahu. Kera tidak akan tega menghabisi keluarga kandungnya hanya karena tidak diberi bekal pisang, tapi manusia tega. Setan pun tidak mau tidak mengimani eksistensi Tuhan, tapi manusia mau. Batasan inilah daya, daya ungkit atau daya pendam.

Menjadi manusia terbaik adalah mendorong atap batas puncak diri setinggi mungkin dan tetap menjaga kokoh batas dasar fondasi diri sekuat mungkin; menempatkan pikiran yang melangit, dengan nurani yang membumi. Menjadi manusia terbaik adalah melayangkan imajinasi menembus fakta aktual, teori, dogma, ruang, dan waktu untuk bisa mencipta-karyakan ide bersejarah. Menjadi manusia terbaik adalah mengokohkan dasar iman menembus batas fisik, material, indera, ruang, dan waktu agar bisa menemukan hasrat diri yang paling dasar: bertuhan. Manusia terbaik dibentuk dari upaya-upaya penembusan batas untuk menemukan kualitas diri yang terbaik; untuk memberdayakan potensi diri seoptimal yang manusia itu bisa.

Sayangnya, tidak banyak manusia yang mencoba menjadi yang terbaik. Kebanyakan orang adalah tahanan tetap dalam jeruji batasan yang dibangun oleh persepsi. Batasan delusional ini yang menakut-nakuti kita untuk menjadi lebih, atau sekadar memanjakan kita agar cukup puas menjadi biasa. Kita menyia-nyiakan hidup dengan tidak menjadi diri yang akan kita syukuri ketika mati nanti. Kita membuang masa dengan tidak mencipta hasil terbesar yang kita bisa. Kita membuang pengetahuan dengan tidak menemukan makna dari Tuhan di dalam kehidupan. Padahal, menjadi hamba yang berjaya akhirat-dunia hanya perlu konsistensi dan persistensi dalam memanifestasikan slogan ternama dari Buzz Lightyear: to infinity and beyond!