Yang Diingat

Ada berapa banyak orang yang Anda pernah kenal? Mungkin ratusan. Secara kumulatif sampai nanti akhir hayat, bisa jadi di angka ribuan, atau bahkan puluhan dan ratusan ribu. Dari semua manusia yang pernah kenal, berapa banyak yang akan benar-benar Anda ingat? Most likely, just a handful. Itu memang cara kerja otak kita, yang secara evolusi hanya memilah satu atau dua peristiwa, memori, serta situasi yang kita simpan dan akan berguna. Otak kita hanya mengingat sudut ekstrem dari setiap kejadian untuk kelak memberikan keunggulan evolusioner manusia sebagai spesies. Ketika memori kita mengingat kalau kena api itu panas, kita bisa menghindari itu nantinya yang ujung-ujungnya bisa membuat kita tetap bertahan hidup.

Menyambung ke pertanyaan awal, dari sekian banyak orang yang kita kenal, kita hanya akan mengingat beberapa orang yang ada di sudut ekstrem. Kita akan ingat orang yang lubang hidungnya paling besar. Kita akan ingat wanita paling cantik. Kita mengingat mantan pacar yang paling baik. Kita mengingat teman yang paling jago kayang. Otak kita dirancang hanya untuk menyeleksi citra orang-orang yang ada di luar batas normal.

Dalam hal itu, teman yang sekarang sedang dipasangkan dengan saya, yaitu Ivan Nashara, adalah orang yang ditakdirkan untuk bisa diingat; karena memang orbitnya ada di luar jalur orang kebanyakan. Sebagian akan mengingatnya sebagai manusia paling baper. Sebagian mengingatnya sebagai bos yang paling posesif. Sebagian lagi akan mengingatnya sebagai orang yang paling arogan. Tapi, saya pribadi akan mengingatnya sebagai rekan yang paling idealis. Dan dalam situasi dimana kaum idealis adalah spesies yang hampir punah, saya rasa kualitas tersebut meninggalkan kesan yang akan tetap bertahan.

Bagi teman saya yang lubang hidungnya paling lebar yang saya sebutkan tadi, saya juga meningatnya sebagai orang yang paling rajin amal ibadahnya. Dan saking rajin dan sholehnya, ingatan tentang berapa ukuran lubang hidungnya kini sudah hampir pudar. Dia sekarang saya ingat sebagai teman yang dulu paling banyak mengajarkan saya tentang agama, tidak lagi terkait dengan lubang hidungnya.

Ternyata, dalam dimensi diri manusia yang memiliki banyak sisi, serta dimensi waktu yang terus berjalan, memori kita juga diciptakan untuk senantiasa memperbaharui apa yang bisa kita ingat tentang citra yang pernah kita tangkap. Dan ini pun kembali memiliki fungsi evolusioner. Otak kita diberikan hak untuk memproses kembali satu hal yang kita ketahui, untuk kemudian membandingkannya dan memberikan keputusan terhadapnya. Karenanya, walaupun kita punya memori untuk menghindari terbakar dari api, kita akan selalu mengingat api sebagai invensi terbesar manusia dan sumber energi yang merevolusi kehidupan kita.

* * * *

Sejarah ini diukir oleh orang-orang yang namanya diingat. Beruntung bagi Ivan, karakteristik pribadinya sudah bisa memenuhi hal itu. Tinggal, takdir mungkin yang akan menentukan, untuk seperti apa dia, sebagaimana manusia lainnya, kelak akan diingat dan diapresiasi orang-orang di sekitarnya.

Dalam konteks yang sama, saya pribadi akan memilih berperang, walaupun untuk diri sendiri, agar nanti bisa menjadi penanda masa, sebagaimana nama-nama para legenda.

If they ever tell my story, let them say that I walked with giants. Men rise and fall like the winter wheat, but these names will never die. Let them say I lived in the time of Hector, tamer of horses. Let them say I lived in the time of Achilles.

– Odysseus

Ternyata Tidak Sederhana

Agaknya, saya memang beruntung bisa punya istri seperti istri saya. Pertama, tentunya, karena dia mau sama saya. Kedua, walaupun dengan latar belakang keluarga yang berbeda, saya dan istri saya sama-sama punya konsep yang sama tentang harta. Saya yang bukan anak orang kaya, merasa bahwa saya sejak dulu bisa hidup bahagia walaupun tanpa limpahan uang yang tak terhingga. Istri saya yang dari keluarga mampu, sejak dulu merasa bahwa uang tidak bisa melelang kembali ingatan yang tidak terlalu membahagiakan. Jadi, secara tidak sengaja kami bersepakat bahwa harta memang hanya selewat, dan uang hanyalah sebuah alat.

Oleh karenanya, bagi kami keserhanaan itu sesuatu yang alami. Kami tidak mencoba memaksakan ataupun mengkampanyekan bentuk kesederhanaan ini sebagai pilihan hidup yang masuk akal di tengah badai konsumerisme. Jika konsumerisme adalah arus yang membawa manusia lainnya secara tidak berdaya, kami adalah pohon kelapa yang tertanam di tengah gunung. Jadi, ya tidak nyambung. Sebagaimana ritme kita bernafas, kesederhanaan ini bukanlah sebuah pilihan serta hasil dari aksi, tapi memang satu sifat natural yang digerakkan oleh alam bawah sadar.

Wujud dari hal ini adalah alpanya segala macam bentuk pemameran dari keserhanaan, sebagaimana khalayak lain. Makanya, walaupun harga baju istri saya cuma 50ribu lebih, dia tidak lantas post di Instagram bahwa sebagai istri direktur hanya beli baju murah demi pilihan menjadi sederhana. Saya pun tidak lantas pamer di Facebook bahwa setiap hari tidak ganti celana dalam demi makna menjadi sederhana. Tanpa melakukan itu, kami memang hanya membeli pakaian ketika membutuhkan, yang terkadang setahun sekali seperti lebaran. Mau itu diskonan baju, sepatu, ataupun kosmetik, tidak pernah rasanya kami tergoda lalu kalap,sebagaimana cerita orang lain yang matanya seketika gelap

Nah, yang lucu, konsep yang sama tidak terjadi ketika urusannya buku. Hampir setiap diskon buku di berbagai toko, kami pasti datang dan membeli banyak tanpa terkendali; walaupun tidak butuh dan masih banyak sisa di rak yang belum dibaca. Ini kelihatannya mirip dengan kebanyakan kelas menengah yang membeli baju mewah padahal isi lemari sudah membuncah.

Kira-kira, kenapa kami yang biasanya bisa sederhana tapi ketika urusan buku justru tidak bisa menahan diri untuk belanja? Ternyata, ini terjawab secara tidak sengaja saat tadi pagi saya berdiskusi dengan istri soal garage sale. Istri saya terheran ketika teman-temannya di dunia maya melakukan garage sale barang pribadinya, dari sepatu, jam tangan, hingga pakaian, yang itu masih bagus dan bahkan tidak pernah terpakai. Dia berargumen, kalau saja kami yang melakukan garage sale seperti itu, sudah pasti semua bajunya tidak layak pakai. Ini memang benar. Kemudian dia lanjut bertanya, “Kalau tidak butuh dan tidak akan pakai, kenapa di awal beli?”

Menanggapi argumen tersebut, saya justru balik bertanya, “Lah, kita juga kalau beli buku dan sampai sekarang belum dibaca, kenapa di awal beli?”. Jawaban setelah inilah yang tidak sengaja memberikan solusi dari misteri ini, “Ya beda dong, kalau buku kan nanti juga ujungnya dibaca”. Ini menarik.

Kenapa ini menarik? Karena, terdengar benar, tetapi juga bias dan paradoks. Apakah semua buku yang saat ini dengan tingkat pembelian yang lebih tinggi dibanding tingkat kecepatan membaca, di akhir nanti akan punya saldo yang positif? Logikanya kan, tidak. Logika yang sama ini lah yang menjadi justifikasi konsumen dalam membeli barang-barang yang kelak tidak berfungsi. Saat memutuskan untuk membeli, psikologis mereka juga berpikir hal yang sama: “Wah, dress ini bagus ya, nanti juga ujung-ujungnya dipakai pas ada kondangan“, “Wah jamnya bagus ya, nanti juga bisa buat ganti setiap hari, nanti pasti dipakai“, “Wah, mobilnya bagus ya, mungkin perlu ganti kalau ke luar kota supaya mobil satunya lebih awet, toh nanti juga terpakai“. Jadi, pada dasarnya, keputusan kita membeli adalah upaya untuk merasionalisasi fungsi eventual dari suatu produk. Dan kita akhirnya memutuskan untuk membeli, saat kita bisa mendapatkan justifikasi akhir bahwa ujung-ujungnya produk tersebut bisa memberikan manfaat, seberapapun nyatanya tidak.

Jika ini dibalik, tentunya banyak sekali orang yang menghabiskan uang dengan mudah untuk membeli baju necis, tapi akan keberatan saat membeli buku diskonan. Sebagaimana tidak terpengaruhnya kami terhadap godaan syetan dalam bentuk potongan harga baju tahun baruan. tapi mudah dirayu dengan buku. Ujung-ujungnya, kembali ke diri kita, bahwa masing-masing kita memiliki jiwa sederhana dalam memaknai satu benda, tapi memiliki hasrat berlebih terhadap benda lain. Orang yang royal dalam membeli game di Steam, belum tentu bisa royal saat membeli lipstick di Wardah.

Kesimpulannya, ternyata berkaitan dengan tulisan saya empat tahun yang lalu; dengan sedikit ekstensi. Kesederhanaan akan bergantung pada keinginan, kita cukup perlu secara hati-hati mendefinisikan apa keinginan kita. Tapi, di sisi lain, terkadang kita juga tidak bisa lari dari aspek lain dari diri kita yang bisa saja sama sekali tidak sederhana. Dan ini pun juga ditentukan dari definisi tentang keinginan. Orang yang keinginan besarnya adalah pahala, akan sangat tidak sederhana dalam beramal dan bersedekah. Dan orang yang keinginannya benda yang gemerlap, akan sangat tidak sederhana dalam belanja untuk mengoleksinya. Yang jadi tantangan adalah, bahwa apapun yang kita miliki, baik itu waktu maupun sumber daya, sangatlah terbatas. Di sisi mana kita bisa secara alamiah memutuskan untuk menjadi sederhana dan tidak sederhana?

Konsisten Untuk Tidak Konsisten

Ajegile. Dari Total 25 hari menulis, saya baru menulis 12 kali. Lebih banyak dendanya dibanding menulisnya. Ini luar bisa menyedihkan. Lebih sedih dari film Twilight atau kasus korupsi Setya Novanto.

Kenapa saya tidak menulis? Ada banyak justifikasi yang bisa dicari, terutama karena pekan ini luar biasa melelahkan karena harus keliling bolak-balik Bekasi-Bogor. Menulis yang menurut saya semacam melukis bagi seorang artis, membutuhkan satu energi, ide, serta fokus yang cukup agar hasilnya bisa saya banggakan. Sayangnya, tidak cukup ada yang tersisa tentang tiga hal itu di pekan ini untuk bisa mencurahkan isi kepala barang satu dua biji. Tapi, dibalik justifikasi itu, dasarnya memang saya bukan orang yang bisa konsisten untuk melakukan aksi kecil selama berulang-ulang dan terus-menerus.

Dulu saya sempat ditanya teman saya tentang apa jalur karir terburuk yang mungkin terjadi ke saya. Saya jawab: tukang fotokopi. Alasannya bukan dari segi pemasukan atau tingkat kekerenan, tapi lebih ke aktivitas yang dilakukan. Coba bayangkan, apa yang dilakukan tukang fotokopi? Memotokopi. Masukkan kertas ke dalam mesin fotokopi, menekan tombol, lalu jadi. Yang jadi masalah adalah, kalau sehari ada 200 lembar saja yang difotokopi, sebulan sudah 6000. Enam ribu kali melakukan aktivitas kecil yang sama dan berulang-ulang: masukan kertas, tekan tombol, lalu jadi. Begitu terus, enam ribu kali. Mungkin satu atau dua bulan melakukan itu, saya sudah masuk rumah sakit jiwa. Mentalitas saya yang petakilan membutuhkan satu hal yang dinamis dalam spektrum waktu yang pendek.

Mentalitas ini tentunya bukan hal yang selalu positif, karena mempersulit saya untuk melakukan hal yang sama dengan rutin. Padahal, rutinitas ini penting dalam membangun satu progress yang signifikan. Ini akhirnya terwujud dalam berbagai macam dimensi. Di level pribadi, saya tidak bisa rutin mandi atau melakukan ibadah di waktu yang sama setiap hari. Di level keluarga, saya tidak bisa melakukan pekerjaan harian seperti mencuci piring atau membereskan kasur. Di level perusahaan, saya juga tidak bisa mengirimkan newsletter pekanan. Satu-satunya hal yang konsisten, adalah dalam menjadi tidak konsiten.

Konsistensi dan Persistensi

Dengan melihat hal tersebut, saya juga tidak rela jika dibilang menjadi anak muda yang galau. Karena, dalam skala yang makro, saya tetap melakukan hal yang sama apapun kondisinya. Hampir sejak dari tingkat tiga, saya selalu ada di industri perikanan pada berbagai bentukan; mulai dari punya kolam, punya kios makanan, jadi pedagang, hingga sekarang fokus di teknologi. Saya tidak serta-merta menjadi banci trend yang gamang lalu pindah haluan. Padahal, jalan menuju ini pun tidak mudah; dari mulai tidak ada restu orang tua, didera kerugian, kehabisan uang, tawaran pekerjaan dan beasiswa, hingga penolakan dari konsumen yang tidak ada habisnya.

Di level perusahaan, saya pun tidak rela jika dibilang tidak konsisten. Karena, sejak awal bisnis masih seuprit sampai sekarang sudah seuprit lebih sedikit, saya masih tetap berjuang siang malam dengan energi yang tetap besar dan siap sedia berada di garda terdepan. Saya tetap konsisten untuk berupaya memberikan yang terbaik yang saya bisa. Berarti, saya juga konsisten, kan?

Ternyata, tidak. Contoh di atas bukanlah bentuk suatu konsistensi, melainkan persistensi. Apa bedanya? Persistensi adalah kemampuan untuk tetap melakukan sesuatu hal, bahkan di saat-saat yang sulit. Sedangkan konsistensi adalah kemampuan untuk terus-menerus melakukan hal yang sama dalam keadaan apapun. Persistensi berkaitan dengan respon terhadap tekanan atau situasi, sedangkan konsistensi adalah suatu hal yang reguler dan tidak berubah terlepas dari situasi yang terjadi.

Contohnya, jika kita adalah satu orang yang tersekap di dalam goa, persistensi adalah kemampuan kita untuk tetap bertahan, mencari jalan keluar, serta melakukan aksi walaupun dalam kepanikan dan keterbatasan sumber daya. Sedangkan konsistensi adalah kita yang mengetuk-ngetuk satu lubang yang sama di pintu goa tersebut hingga bisa terlihat cahaya dan membongkar hingga bisa keluar goa. Dalam konteks apapun, kita membutuhkan persistensi dan konsistensi agar menghasilkan satu luaran yang berbeda.

Belajar Menjadi Konsisten

Bagi saya pribadi, menjadi persisten ini adalah hal yang alamiah. Dari dulu saya mampu menjadi orang yang paling persisten dimanapun berada. Kenapa? Karena, untuk menjadi persisten, faktor utama yang wajib ada adalah tekanan dan kesulitan. Untungnya, seumur hidup saya selalu penuh dengan dua hal tersebut sehingga, mau atau tidak, mentalitas persisten bisa terbentuk dari kekacauan yang hadir secara sengaja maupun tidak.

Berkorelasi dengan poin di atas, menjadi konsisten justru sangat sulit. Saat hidup Anda cukup familiar dengan chaos, melakukan hal yang sama secara terus-menerus sama sekali tidak mudah. Jika Anda tinggal di Singapura, naik MRT setiap hari setiap jam 7 pagi masih bisa dilakukan, karena situasi aman terkendali. Tapi, ketika Anda tinggal di Palestina, setiap jam 5 pagi bangun tidur terus mandi tidak lupa menggosok gigi bukan hal yang gampang, karena banyak sekali kemungkinan yang terjadi untuk menghambat itu; mulai dari desa sebelah yang di bom hingga air bak mandi yang belum tentu masih mengucur.

Oleh karena itu, sebelum belajar untuk menjadi konsisten, hal yang pertama yang perlu saya pelajari adalah bagaimana untuk bisa nyaman dengan situasi yang nyaman, atau setidaknya menemukan waktu atau zona yang bisa membuat kita nyaman. Dalam kenyamanan ini ada satu ruang yang, bagi manusia pencari kekacauan seperti saya, tepat untuk mensimulasikan satu aksi yang konsisten. Rekan saya yang punya mental agent of chaos seperti saya juga melakukan ini, dengan yoga dan meditasi. Setelah melakukan meditasi, selama 1 jam setelahnya adalah waktu bagi dia untuk melakukan aktivitas yang membutuhkan rutinitas; menulis buku satu paragraf, olahraga, mengirim newsletter, dan lain sebagainya.

Kelihatannya, ide ini bisa dijalankan, bukan? Sampai saat saya memikirkan betapa anehnya hal ini; melakukan suatu aktivitas rutin agar bisa belajar melakukan aktivitas dengan rutin. Paradoks. Dalam paradoks ini, yang masuk akal hanyalah untuk bisa konsiten dalam menjadi inkonsisten. Mungkin dengan belajar konsisten dalam inkonsistensi, saya bisa menemukan makna menjadi konsisten.

Puisi Dalam Saya

Nama saya Gibran. Siapapun penggemar sastra pasti akan mudah menemukan korelasi nama saya. Tentunya bukan dengan anak presiden yang doyan ngevlog dan viral, tapi dengan salah satu sastrawan terbesar dari Lebanon. Menariknya, sastra yang ada di dalam nama saya juga terselip ke dalam bakat saya.

Ayah saya sangat suka dengan karya-karyanya Kahlil Gibran dan dia punya cukup banyak koleksi bukunya. Di usia TK hingga SD, buku Sang Nabi sudah khatam saya baca walaupun tidak paham artinya. Ayah saya juga pandai dalam bersajak. Mungkin karena sejak dini terpapar dengan sastra, dipadu dengan darah melayu, serta warisan genetis ayah saya tadi, saya cukup berbakat dalam membuat puisi.

Karena paham dengan kemampuan saya yang lihai, kelihatannya sudah tidak terhingga banyaknya wanita-wanita yang saya rayu dengan puisi aduhai. Pernah di satu waktu di SMA, ada adik kelas manis yang saya suka. Karena tampang saya yang mirip dengan Kotaro Minami saat sudah berubah menjadi Kamen Rider, tentunya tidak mudah bagi saya untuk menarik hati wanita yang semacam ini. Alhasil, saya menuliskan 5 puisi anonim yang saya tulis di surat dan dititipkan ke teman. Tanpa mengharap balasan. Platonis.

Lewat satu tahun sejak saat itu, si wanita ini punya pacar tampan dan atletis yang merupakan senior saya. Satu kesempatan, saya duduk berdua dengan dia di satu acara OSIS, lalu tiba-tiba dia memperlihatkan SMS dari pacarnya yang berisi puisi. Sayangnya, puisi itu lebih seperti pertanyaan teka-teki silang. Saya agak bingung kenapa dia menunjukkan SMS tersebut ke saya. Sampai dia bilang sambil melirik tersenyum, “Jauh banget kan sama puisi yang dulu pernah kakak bikin? Coba aja itu nggak anonim, aku bisa dapet SMS yang lebih bagus sekarang”. Satu tahun, tapi puisi iseng yang saya kasih itu bekasnya masih banyak tersisa, padahal saya sendiri pun saat itu sudah lupa isinya apa.

Karena memiliki rekam jejak yang bagus, akhirnya saya juga sempat membuka jasa pembuatan puisi. Saat SMP dan SMA, dipengaruhi oleh kekerenan Rangga di AADC yang saat itu sedang trend, banyak sekali teman-teman saya yang jadinya sok berpuisi, tanpa bakat yag mumpuni. Akhirnya, upaya-upaya romantis mereka ke gebetan, perlu karya yang lebih berkualitas agar bisa efektif bikin hati deg-degan. Di sana peran saya. Cukup 5 hingga 10 ribu rupiah, orang bisa mendapatkan satu puisi customized sesuai dengan tujuan dan karakter target puisi ini. Ada yang untuk mantan, kecengan, bahkan pacar orang; yang semuanya dibuat khusus. Hasilnya lumayan; setidaknya kalau dijumlahkan saya sudah mendapatkan jutaan rupiah dari transaksi ini. Dan setidaknya ada dua lusin pasangan yang jadian karena puisi-puisi yang tampan.

Karena proses ini, bagi saya, membuat puisi itu effortless. Hanya butuh berpikir 5 menit untuk saya bisa membuat beberapa bait. Saat ide menulis ini mentok, seperti malam ini, jalan pintas yang selalu terpikir pertama kalinya adalah membuat puisi; yang sejauh ini belum pernah saya lakukan demi memaksa diri untuk bisa membuat tulisan yang bisa dibanggakan. Lain dengan para sastrawan yang membuat puisi dari hati, puisi-puisi saya yang mekanistis sama sekali tidak sempat masuk memori.

Saya tidak ingat hampir semua sajak yang saya buat. Tapi, malam ini, tiba-tiba saya teringat satu sajak yang saya gubah di satu malam, di Gunung Papandayan, di depan api unggun yang menyala. Malam itu cerah dan indah. Biasanya, situasi seperti itu sangat saya nikmati dengan ketenangan dan kesendirian. Tapi, tidak saat itu. Saat itu saya selalu membayangkan satu wajah yang membuat saya resah. Resah yang berupa rindu. Dan untuk mencurahkan itu, saya ambil kertas, lalu saya menulis satu surat.

Keesokan harinya surat ini saya selipkan di tas seorang wanita. Tujuh tahun setelahnya, wanita ini yang sekarang terlelap di sebelah saya, memeluk anak kecil cantik yang wajahnya mirip dengan kami berdua.

Seperti menulis puisi, ada banyak hal lain yang effortless, yang bahkan saya lakukan setiap harinya: mencetuskan ide, bernafas, atau berkata satu dua hal. Tapi, seperti puisi di atas, ada hal-hal tertentu yang terjadi dalam percikan yang tepat yang kemudian berdampak besar bagi kehidupan saya: ide bisnis yang cukup dalam yang kini menjadi sumber penghidupan, nafas yang ditarik dalam lalu mendorong saya melakukan sesuatu yang berani, atau perkataan yang cukup dalam yang kemudian mengubah pandangan orang terhadap saya. Seperti puisi di atas, hal kecil yang kita lakukan hanya perlu kita hayati lebih dalam agar bisa benar-benar memberikan makna yang nyata.

The Art in You

Every child is an artist. The problem is how to remain an artist once we grow up. – Pablo Picasso

Jadi, di #31HariNulis ini, ada sesi khusus yang dibuat dimana kita harus bikin tulisan yang menanggapi atau terinspirasi dari tulisan teman kita di eFishery. Untung sekali, saya kebagian menanggapi blognya Reggy. Reggy ini graphic designer di eFishery. Baca blognya, Anda bisa melihat sesuatu yang luar biasa; hampir setiap postingan ada ilustrasi cantik yang dibuat sendiri! Kurang keren apa coba.

Jiwa yang sangat artistik dari Reggy ini benar-benar intriguing. Saya sendiri merasa bahwa otak bagian seni saya sama sekali tidak diasah; mungkin itu juga yang bikin jalan pikiran saya suka ruwet. Kadang, kita butuh simplisitas, kebebasan, serta ketenangan yang bisa dibawa oleh seni agar bisa menghasilkan suatu pemikiran yang lebih kompleks.

Supaya inspirasi kreativitas visual yang disuguhkan Reggy tidak hanya sekadar inspirasi sahaja, saya mencoba melakukan aksi dengan membuat satu karya luar biasa di Microsoft Paint. Setelah selesai membuat karya ini dan memperhatikan dengan seksama, saya menyadari satu hal besar yang sesuai dengan quote di atas: setiap diri kita adalah seniman. Hanya saja, ada yang berbakat seperti Reggy, dan yang terlaknat seperti saya.

Karya Seni Abad Ini

Agar Tidak Lagi Rundung

Akhir-akhir di lini masa berseliweran berita tentang perundungan (bullying). Mulai dari mahasiswa universitas swasta yang merundung orang berkebutuhan khusus; sampai sekumpulan anak SMP yang juga menganiaya rekan sebayanya. Banyak yang marah melihat video itu; tapi saya tidak yakin banyak yang benar-benar tahu bagaimana rasanya jadi korban rundungan.

Kebetulan, waktu SD saya juga korban bullying semacam ini. Dulu saya anak paling pintar di sekolah yang rambutnya selalu disisir klimis dan baju seragam dimasukkan ke dalam celana. Tampilan luarnya memang sudah memenuhi prasyarat umum korban bully. Tapi, yang kelihatannya jadi alasan saya dirundung adalah fisik saya yang pendek dan kurus dulu. Bentuk bully-nya bermacam-macam, mulai dari jadi pesuruh untuk beli siomay di depan sekolah, sampai dikerjai dengan dilempar-lempar sepatunya.

Memenuhi Syarat Korban Bully

Di SMP kelas 1 saya sempat mengalami hal yang sama. Untungnya di kelas 2, saya pindah sekolah dengan teman-teman yang lebih beradab dibanding sebelumnya. Dan waktu SMA, saya diselamatkan oleh nasib karena saat itu saya jadi atlet pemenang perunggu sekaligus ketua pencak silat dan presiden OSIS, jadi syarat untuk jadi korban bully tidak lagi terpenuhi. Sayangnya, di masa-masa ini saya justru menyaksikan orang-orang di sekolah saya yang menjadi korban rundungan secara fisik dan mental.

Ada satu teman saya yang di-bully karena fisiknya yang memang kecil. Dia menjadi pesuruh untuk ke kantin, menjadi korban yang didorong-dorong saat ada yang sedang kesal, dan dimasukkan ke tong sampah saat dia balik melawan. Ada juga teman wanita saya yang dirundung secara mental karena penampilannya yang tidak seelok perempuan pada umumnya. Dia menjadi objek standar keburukan rupa untuk mengejek teman yang lainnya. Dikucilkan dan ditertawakan kelihatannya sudah menjadi makan sehari-harinya. Sayangnya, orang-orang yang bernasib seperti itu tidak hanya dua, tapi ada beberapa. Dan saya juga yakin, ada dimana-mana.

Merundung Diri Sendiri

Apa salahnya orang yang di-bully? Kadang, nyaris tidak ada. Dalam kasus video mahasiswa swasta di atas, korbannya dirundung hanya karena dia memiliki keterbelakangan mental. Di pengalaman saya saat SD dan teman-teman saya waktu SMA, korban dirundung karena memiliki kekurangan fisik dibanding yang merundung. Korban ini di-bully karena dipandang lebih rendah; lebih kecil, lebih bodoh, atau lebih jelek dibanding pelakunya.

Seandainya pun kenyataannya demikian, tapi apa salahnya orang yang di-bully? Kekurangan fisik, mental, maupun intelektual korban ini adalah hal yang dimiliki sejak lahir, tanpa bisa memilih. Kalau bisa memilih, saya akan meminta wajah saya seperti Nicholas Saputra dan tubuh saya mirip dengan Chris Hemsworth. Tapi, realitanya kan tidak. Saya hanya nyaris setampan dan se-atletis itu.

Nah, kondisi inilah yang akhirnya semakin memberi tekanan ganda bagi korban yang dirundung. Pertama, mereka memiliki luka fisik ataupun mental dari proses rundungan ini, yang kadang bisa berkepanjangan. Kedua, saat mereka mencoba berpikir tentang apa alasan mereka menjadi korban, mereka akhirnya akan menyimpulkan bahwa itu karena kekurangan yang mereka punya. Mereka dipaksa untuk mengira kalau penyebab ini terjadi adalah diri mereka sendiri.

Ini bukan hanya dramatisasi. Di SD dulu, saya punya teman dekat yang menangis di ujung kelas karena ada anak lelaki yang bilang ke dia sambil tertawa, “elo mah jelek, nggak akan ada yang mau!”. Sambil menangis, dia bilang ke saya, “Salah gue apa ya kalau jelek? Kan Tuhan yang kasih, bukan gue yang minta“. Saya hanya bisa terdiam. Sedih juga rasanya melihat teman saya yang sudah dirundung orang lain, lalu dipaksa untuk merundung diri sendiri karena penilaian cacat manusia serta perilaku yang semena-mena.

Sendiri Dirundung

Apa hal kedua yang paling mengesalkan dari video bullying yang beredar di media sosial, selain si pem-bully-nya? Bagi saya, orang-orang di sekitarnya. Mereka melihat, tapi hanya melihat, bukannya memilih untuk berbuat. Harusnya mereka bisa menghentikan, membela, atau menyelamatkan korban rundungan ini agar tidak lebih jauh lagi tersudutkan. Tapi, tidak, korban ini tersiksa sendirian.

Ini pula sesal terbesar saya di masa SMA dulu. Sebagai mantan korban bully, harusnya saya bisa mengerti tidak enaknya di posisi itu lalu bisa melakukan sesuatu. Tapi, setiap melihat adegan perundungan, saya hanya diam saja tanpa tindakan, tidak jarang malah juga ikut menertawakan. Pilihan sikap kita sebagai orang-orang yang ada di sekitarnya inilah satu tindak pengecut, yang dalam perspektif lain hampir sama seperti pelaku yang merundung. Secara tidak langsung, kita juga pelaku bully, karena membiarkan hal itu tetap berulang-ulang terjadi.

Kalau saya kembali mengingat di masa menjadi korban bully dulu saat SD, ada satu titik dimana saya tidak lagi di-bully lagi. Satu waktu, saya sedang dirundung dua teman saya yang melempar topi saya berganti-gantian dan memaksa saya harus bolak-balik mengejar. Mereka melakukan itu cukup lama sampai-sampai saya nyaris meneteskan air mata. Hampir menjelang frustrasi, datang teman sekelas wanita saya yang mendatangi salah satu dari pelaku itu, memukul tangannya, sambil berteriak, “balikin nggak topi dia?!“. Si perundung ini langsung takut dan mau tidak mau memberikan topi saya ke si wanita pemberani ini. Adegan setelahnya sampai mati tidak akan saya lupa: dia mendekati saya, memasangkan topi tersebut di kepala saya, lalu tersenyum sambil bertanya, “kamu nggak apa-apa?”. Manis. Teramat manis. Sejak saat itu saya bebas bully, dan saya menganggap wanita manis ini sebagai dewi penyelamat karena dia tidak membiarkan saya tersiksa sendiri.

Jika saja waktu bisa diputar, saya akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh teman wanita saya sebelumnya, ke semua teman-teman saya yang menjadi korban rundungan. Mungkin saya tidak perlu memasangkan topi, dan tidak juga bisa tersenyum semanis tadi, tapi setidaknya saya ingin memastikan kalau saya siap membela mereka dari serangan bully. Dan juga memperlihatkan kalau mereka tidak sendiri.

Dua Puluh Ribu

Apa artinya 20 ribu rupiah?

Bagi Anda yang biasa minum di cafe, 20 ribu bahkan tidak cukup untuk beli satu cangkir kopi. Bagi kita yang biasa makan di restoran, 20 ribu bahkan tidak cukup untuk mencicipi satu piring nasi. Tapi, bagi tukang pulung yang dulu sempat saya temui, 20 ribu ini senilai dengan makan satu hari bagi dia, istri, dan dua orang putri.

Seberapa mudah kita kehilangan 20 ribu? Kalau terselip di kasur, tertinggal di saku, atau terjatuh di jalan; apakah kita akan sedih dan mencarinya habis-habisan? Saya jamin, tidak akan. Tapi, bagi tukang pulung yang dulu sempat saya temui, 20 ribu ini cukup besar baginya untuk meniti kembali berkilo meter jalur yang sudah ia lewatkan, karena lembar uang ini jatuh entah dimana di tengah jalan.

Ini yang aneh dari harta; nilai intrinsiknya tidak hanya dilihat dari kemampuannya menukar barang atau jasa, tapi juga situasi pemiliknya. Walaupun harga 20 ribu nilai intrinsiknya sama, bisa membeli satu kilogram telur ayam, misalnya; tapi tingkat kebutuhan pemiliknya lebih menentukan seberapa berharga nilainya.

Dalam konteks sekarang, 20 ribu bagi saya adalah sebuah dilema. Saya yang banyak gaya ini hanya ingin menulis sesuatu yang panjang dan lebar dengan ide yang mendalam. Tujuannya mungkin untuk pencitraan. Tetapi, karena banyak pekerjaan lain yang menanti untuk diselesaikan, saya tidak punya cukup energi dan konsentrasi untuk ide tersebut terejawantahkan. Sementara itu, di sisi lain, kalau saya tidak menulis sama sekali, saya akan kena denda 20 ribu. Seperti lima hari lainnya, dimana saya juga kena denda. 20 ribu.

Saya tidak ada masalah untuk membayar denda, seperti lima hari sebelumnya dimana saya sudah memutuskan untuk rela. Tanpa beban; tanpa kekhawatiran. Tapi, tiba-tiba saja, tadi di jalan saya ingat dengan pemulung yang dulu sempat saya temui. Dia sedang mengais sampah sambil menitikkan sedikit air mata. Waktu sudah maghrib. Langit sudah muram, tapi wajah dia lebih terlihat suram. Saat saya datangi dan tanya kenapa dan sedang cari apa, dia menjawab sambil terisak,

“Uang saya hilang, dek. 20 ribu”

Saya terdiam. Saat itu juga, dan saat ini ketika mengingatnya, saya jadi sadar banyak sekali nikmat yang kecil, seperti nilai 20 ribu, yang setiap waktunya telah kita dustakan.

KTP Saya Dikorupsi

“Pak, KTP saya udah jadi?”

Pertanyaan ke pegawai kecamatan di atas memiliki jawaban yang sangat absolut, selayaknya pertanyaan apakah mata Anda ada lima. Jawabannya, tentu saja, tidak. Hampir 10 bulan sejak saya foto untuk eKTP, sampai sekarang belum juga jadi. Kalau di waktu yang sama istri saya hamil, sekarang anak saya akan sudah terlahir. Kalau saya ternak lele, hari ini akan sudah panen tiga kali. Kalau saya keliling dunia naik kapal laut, hari akan sudah dua kali keliling bumi. Tapi, eKTP, kartu dari plastik seukuran 8,6 x 5,4 cm ini, belum juga jadi.

Mungkin Anda akan bisa maklum saat alasannya adalah satu-satunya ratu KTP yang bisa mencetak kartu dari bahan awan kinton ini sedang sibuk hamil, ternak lele, dan keliling dunia naik kapal laut secara bersamaan; sehingga kartunya tidak jadi-jadi. Tapi, ‘kan jadi makin sebal saat alasannya adalah: ‘blankonya abis, mas, belum dateng’. Blanko. Habis.

Sudah dibuat naik pitam dengan ini yang tidak selesai-selesai, saya makin kesal lagi saat beberapa pekan lalu ke kecamatan untuk menanyakan hal ini untuk kesejutalimapuluhribu kali. Saat saya tanya status KTP saya, dia menjawab, “Sudah terima surat undangan dari RT/RW mas?”. Saya makin heran, apa hubungannya surat undangan dengan KTP? Saat saya tanya apa surat undangan ini dan bagaimana prosesnya, si Bapak malah menjawab, “Jadi untuk KTP yang akan dicetak, kita kirim surat undangan ke kelurahan, nanti kelurahan kirim ke RW, lalu ke RT, dan setelah iitu dikirim ke rumah Bapak”. Lah, terus? “Nanti undangan itu dibawa ke kecamatan, artinya KTP Bapak sudah siap dicetak, jadi nanti kami cetak deh!”

Anda paham kan betapa proses yang dijelaskan di atas rasanya bikin Anda pingin salto ke belakang sambil makan gorengan pisang? Jadi, untuk saya bisa ambil KTP, kecamatan akan mengirimkan surat ke kelurahan, dimana kelurahan akan mengirimkan lagi ke RW, lalu RW akan kasih ke RT, dan RT baru kirim ke rumah saya. Di bagian ini aja udah tidak masuk di akal, karena kenapa juga kecamatan tidak kirim langsung ke saya. Oke, tapi ini setidaknya bisa bikin saya sedikit senang kalau yang dikirimnya adalah KTP-nya. Ini, hanya surat undangan! Terus, surat undangan ini harus saya sendiri yang bawa ke kecamatan. Brok, kenapa nggak kirim SMS atau tilpun weh atuh ke saya buat dateng ke kecamatan? Nah, mungkin, mungkin, saya masih bisa ada kadar lega barang secuil kalau ketika datang ke kecamatan saya langsung dikasih KTP yang sudah jadi. Ini, ternyata, surat undangan itu hanya untuk tanda bahwa KTP saya sudah siap cetak. Jadi, belum dicetak. Ah. Tape ketan!

Inefisiensi yang Terstruktur

Kelihatannya kejam dan bebal rasanya jika saya menganggap bahwa pemerintah kita, dari level pusat hingga daerah, memiliki kadar intelektualitas yang rendah. Karena, nyatanya mereka sudah menempuh pendidikan tinggi untuk mencapai posisi tersebut. Tapi, kenapa kasus eKTP yang saya alami di atas tetap terjadi? Padahal kan, orang yang kecerdasannya jongkok pun akan mampu melihat dengan jelas betapa prosesnya sangat inefisien. Menurut saya, jawabannya hanya satu: korupsi. Dan bukan hanya kasus korupsi secara spesifik di eKTP yang kemarin sempat ramai saja, tapi korupsi di sistem negara kita yang sudah lama mendera.

Korupsi, kolusi, dan nepotisme yang dipupuk subur selama orde baru masih menyisakan banyak kerak yang membuat fungsi pemerintahan kita, termasuk pelayanan publik, kian berkarat. Alasan utamanya adalah, bahwa sistem kita sejak dulu sengaja dibuat strukturnya agar tidak efisien. Inefisiensi dari segi proses, waktu, dan sumber daya manusia inilah yang kemudian menyisakan banyak ruang dan peluang untuk korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Pertama, dari segi inefisiensi proses dan waktu. Pelayanan publik kita nampaknya sengaja memperpanjang setiap proses yang ada di dalamnya, mulai dari pendaftaran PT hingga pembuatan KTP. Tidak perlu kita bandingan dengan Singapura yang pembuatannya hanya butuh waktu sehari. Membandingkan dengan proses lain yang terjadi di negara kita saja, menjadikan ini fakta yang lucu dan ajaib. Contohnya, membuat KK dan akte lahir, dari pengalaman saya, membutuhkan waktu lebih dari 3 bulan. Tapi, rekan saya yang punya kenalan orang dalam bisa mendapatkan dokumen tersebut dalam waktu 3 hari. Contoh lainnya ada pada perbedaan paket pembuatan PT atau pengurusan sertifikat rumah yang normal dan percepatan. Ini jelas-jelas membuktikan kalau sebenarnya prosesnya memungkinkan untuk bisa jadi cepat, tapi memang sengaja dibuat lambat. Ruang-ruang di proses yang lambat ini lah yang terisi oleh korupsi dan kolusi.

Kedua, dari segi inefisiensi sumber daya manusia. Di kasus surat undangan cetak KTP tadi, kita bisa melihat bahwa keterlibatan sumber daya manusia di dalamnya sama sekali tidak tepat guna. Untuk apa, hanya sekadar mengirim surat saja, perlu melibatkan pejabatan kecamatan hingga RT? Dan kacaunya, hampir semua dokumen serta surat kependudukan, selalu membutuhkan surat dari RT hingga kecamatan. Apa tujuannya? Dalam pengalaman teman saya yang meminta izin CV dari RT hingga kecamatan, tujuannya supaya di setiap titik yang terlibat, ada pungutan yang tidak wajib tapi diharuskan yang masuk ke saku para pejabat. Lalu, kalau orang yang terlibat banyak, artinya makin banyak juga posisi jabatan imajiner yang bisa dibuat, sehingga bisa diisi oleh sanak saudara mereka yang sedang mencari kerja. Inefisiensi sumber daya manusia ini sengaja dibuat supaya bisa jadi ruang untuk korupsi dan nepotisme.

Korupsi Mental

Apakah pelayanan publik kita lebih baik sekarang? Ya, kita bisa sedikit atau banyak merasakannya. Apakah korupsi masih ada? Ya, tapi dengan jumlah yang jauh lebih rendah dibandingkan dulu. Kita bisa melihat, setidaknya, ada transparansi proses dan semakin banyak kasus korupsi yang akhirnya dihukum di level daerah dan nasional. Jadi, kita masih bisa menyimpulkan kalau hal ini sedang mengarah ke arah yang lebih baik.

Nah, masalahnya, progres yang terjadi di perubahan proses yang saya sebutkan di awal tidak juga terlihat besar. Sudah 20 tahun sejak reformasi, pembuatan eKTP masih membutuhkan waktu lebih dari 10 bulan (dan itu pun belum juga selesai). Masalah ini bukan juga karena pejabat daerahnya melakukan korupsi dan kolusi. Tapi, merupakan efek laten dari korupsi tersebut.

Pemerintah kita yang terbiasa hidup dalam struktur yang korup, akhirnya memiliki mentalitas yang juga terbiasa terhadapnya. Oleh karena itu, sekalipun tindak korupsi sudah berkurang, proses berpikir mereka dalam membangun sistem dan menyelesaikan krisis masih menggunakan mental yang sama dengan saat mereka ada dalam struktur yang koruptif. Ujung-ujungnya, sistem yang dirancang dan proses yang dilakukan tetap saja inefisien, karena mereka hanya tahu cara membuat sesuatu yang inefisien. Dalam analogi yang ekstrem, manusia yang dibesarkan di tengah gorila tidak akan mampu melakukan apa yang idealnya manusia lakukan. Korupsi membius otak kita secara kolektif agar tetap membangun struktur yang koruptif. Sistem yang korup ini yang secara tidak langsung juga mengorupsi mentalitas kita.

Revolusi Mental

Entah mungkin karena kesal karena eKTP tidak jadi-jadi, atau memang karena kenyataannya demikian; tapi saya merasa bahwa penyakit korupsi di pemerintahan kita sudah sangat kronis dan tidak bisa diselamatkan. Korupsi bisa saja diberantas, tindaknya bisa dipidanakan, tapi dampak tidak kasat mata dan berkelanjutan di dalam sistemnya ini yang sulit akan dihilangkan. Lalu, apa solusinya? Tunggu saja mati; karena yang mati akan terlahir kembali.

Maksudnya, saya masih meyakini bahwa supaya negara secara struktur bisa lebih baik adalah dengan menunggu generasi yang sekarang digantikan dengan generasi yang baru. Mereka yang ada di level pemegang kebijakan di pusat dan daerah adalah orang-orang yang terlahir atau dibesarkan di struktur yang korup, sehingga mereka disuapi oleh sistem yang sengaja dirancang inefisien, lambat, dan berat. Sekalipun mereka orang-orang yang bersih, mereka bukan orang-orang yang mampu merestrukturisasi isinya, karena mereka tidak tahu idealitas bahkan dalam tatanan konseptual.

Namun, saat generasi saya yang lahir dan besar dari masa yang baru; di tengah perubahan politik, ekonomi, serta teknologi yang sangat cepat, revolusi merupakan hal natural bagi kita. Pembaharuan adalah kondisi normal yang kita pahami. Efisiensi adalah kemestian, bukan hanya pilihan.

Jadi, sekesal-kesalnya saya dengan proses dan struktur pemerintah sekarang, saya setidaknya bisa merasa tenang kalau saya merupakan bagian dari solusi; sebagai generasi yang kelak akan merevolusi. Mungkin saja, 10 atau 20 tahun dari sekarang, kita bisa memiliki proses pemerintahan dan pelayanan publik yang sangat berbeda; cepat, transparan, dan bisa diandalkan.

Dan mungkin saja, di waktu itulah, eKTP saya akhirnya akan jadi juga.

Kenangan yang Kita Butuhkan

 

Dua tahun lalu, di ajang entrepreneurship di Kenya, saya duduk bersebelahan dengan pejabat tinggi Intel Capital dari Silicon Valley. Dengan profil yang demikian, saya menganggap orang ini sangat rasional, straightforward, dan kaku. Saya merasa prediksi saya kelihatannya benar pada awalnya, sampai tiba topik yang kita bincangkan tentang Bali. Dia bercerita kalau dia hanya pernah satu kali ke Bali di akhir tahun 80an dan memutuskan untuk tidak akan sekali pun kesana lagi, meskipun dia sekarang ke Indonesia setiap 6 bulan sekali.

Saat saya tanya alasannya, jawabannya lebih menarik dari yang saya kira. Di pengalaman pertama dan satu-satunya ke Bali, ia saat itu bersama mantan pacarnya, yang menurut dia wanita paling sempurna. Kecantikan, keceriaan, dan kecerdasan wanita ini dipadu dengan keindahan alam Bali yang masih murni sebelum ada serangan turis menginterupsi. Begitu sempurna paduannya, sampai ia memutuskan untuk mengawetkan memori ini di dalam hati. Dan begitu inginnya dia menjaga memori ini, sampai puluhan tahun setelahnya ia tidak ingin mengisi pengalaman baru di lokasi yang sama: supaya citra Bali, sang juwita, dan keindahannya tetap utuh tanpa ada noda. Di akhir cerita, dia bilang, di antara hal-hal banal yang kita jalani setiap harinya, dia ingin menyimpan satu pengalaman yang tetap terjaga sempurna. Memori ini dia fungsikan sebagai lambang kesempurnaan.

Preservasi Memori

Cerita di atas langsung seketika menempel di kepala karena terasosiasi dengan quote favorit di film favorit saya sepanjang masa.

We all need memories to remind ourselves who we are. I’m no different. – Leonard (Memento)

Kita semua butuh memori untuk mengingatkan kita tentang siapa diri kita. Dan sadar atau tidak, memori ini kita awetkan dalam berbagai macam bentuk. Umumnya orang menyimpannya di album-album foto. Tapi ada yang menyelipkannya di balik ijazah di dalam laci. Di seragam di dalam lemari. Di etalase yang berjejer medali. Di batu nisan yang terhias bunga melati. Atau, seperti cerita di atas, hanya di pojok dalam hati. Walaupun bentuknya berbeda, perlakuan kita terhadapnya sama. Kita jaga itu karena kemungkinan hanya itu satu-satunya hal yang bisa kembali mengingatkan terhadap hal yang kita pernah punya.

Hal ini kelihatannya terdengar lumrah, tapi mari sejenak kita kaji lebih dalam untuk mengetahui seberapa ini berlawanan dengan intuisi. Waktu dan hidup berjalan dengan linear, sehingga setiap kejadian dalam hidup yang dilewati oleh waktu, secara spontan akan menjadi kenangan masa lalu. Ketika sekarang saya mengetik huruf ‘A’, maka sekarang saya sudah memiliki kenangan bahwa beberapa detik lalu saya pernah mengetik huruf ‘A’. Dengan kata lain, sepanjang hidup kita, masa kini dan masa depan hanya akan menjadi masa lalu yang sudah lewat, sehingga di detik kematian kita, kita hanya terdiri atas sekumpulan masa lalu menumpuk berlebih, tanpa masa kini, apalagi masa depan.

“Euleuh, aing geus nyaho, kehed!”, pasti Anda berpikir demikian. Ya, ini memang hal yang sangat kentara yang akal kita pasti sudah bisa cerna. Tapi, justru disitulah letak kontradiksinya. Jika kita sudah jelas-jelas mengetahui bahwa semua hidup kita hanya akan menjadi memori masa lalu, kenapa saat kita menjalani saat ini dan saat nanti, kita seringkali justru sibuk kembali melihat memori-memori lalu yang kita preservasi? Mengapa kita perlu mengenang betapa bahagianya masa kecil kita, dari foto-foto di dalam album? Mengapa kita perlu menangis di hadapan batu nisan? Perlu bangga melihat ijazah atau seragam? Perlu senang mengingat kekasih yang terkenang? Dibanding mengingat masa lalu, kenapa kita tidak fokus saja untuk memastikan bahagianya kita saat ini, berbakti kepada keluarga kita yang sekarang tersisa, mengoptimalkan karya kita terlepas dari mana tempat studi kita, serta membahagiakan pasangan yang ada di samping kita? Kenapa kita tidak bisa benar-benar hidup sepenuhnya di masa sekarang?

Lekat dengan Masa

Kelekatan manusia dengan memori masa lalunya adalah hal yang belum bisa saya pahami, terutama karena saya sendiri juga mengalami. Secara intelektual, pengetahuan kita terhadap dunia terakumulasi secara implisit yang kemudian terbentuk menjadi pemahaman, kecakapan, dan kemampuan kita terhadap hal-hal yang sudah kita pelajari. Cristiano Ronaldo tidak butuh mengingat kembali latihan tendangan pertamanya saat menerima umpan silang di depan gawang. Insting dan keahlian kognitif yang ia miliki sekarang sudah cukup untuk ia mengambil keputusan kapan dan bagaimana harus menendang.

Sementara, secara emosional dan spiritual, bukan hal ini yang sepenuhnya bekerja. Saya masih perlu mengingat betapa hangatnya kasih sayang ibu saya di masa kecil dulu untuk bisa benar-benar merasakan kembali hangatnya dan membalasnya dengan sama sekarang. Saat beribadah, saya harus bisa membayangkan bagaimana indahnya surga atau pedihnya neraka setelah mati nanti, untuk bisa benar-benar menyerapi keyakinannya dan bertindak sesuai dengan itu sekarangBerbeda dengan intelektual, di dimensi emosional dan spiritual, diri saya yang ada saat ini bukan citra yang imanen dan independen, melainkan terikat dan transenden.

Kita Butuh Memori

Walaupun dalam bentuk yang lebih sederhana, saat dengar cerita dari pejabat Intel Capital ini saya berpikir tentang apa yang saya tulis di sini. Mau tidak mau, saya terpaksa menanyakan dia soal hal ini lagi, walaupun beberapa menit setelahnya kita sudah mendiskusikan topik yang lain. Saya tanya, “Why don’t you go to Bali with your wife and kids now? I mean, there’s a chance that you can have a better memory. And I bet you love them more.

Sambil tersenyum, dia menjawab, “Yes, of course. We had a great other memories in Maldives, Europe. But I need memory in Bali to stay as it was. I wouldn’t take a chance to give away something that I know was perfect. Luckily, our memory is unlike a hard drive, right? It has no limit”. Saya berhenti bertanya karena tertawa sejenak dengan referensi candanya yang cerdas. Tapi juga karena jawaban itu cukup untuk sementara membuat saya puas.

Beberapa bulan setelah kembali dari Kenya, saya pulang ke rumah membawa anak saya yang baru berumur 2 bulan untuk bertemu ayah saya. Saat itu, ayah saya yang sedang sakit terlihat teramat bahagia bermain berdua dengan cucu pertamanya. Saya yang melihatnya dari luar kamar, hanya sempat tersenyum kecil. Ketika tiga bulan kemudian ayah saya meninggal, memori itu jadi berlipat-lipat harganya karena menjadi momen terakhirnya berinteraksi dengan cucunya.

Untungnya, kenangan ini sempat sengaja terekam dalam swafoto di ponsel ayahanda. Sejak saat itu, saya simpan baik di memori; di cloud storage dan juga di hati. Bagi saya, ini juga perlambang kesempurnaan. Dan ternyata, saya butuh memori ini. Terutama untuk mengingatkan kembali pada kebahagiaan yang intelektualitas saya tidak sanggup lagi untuk melukiskan. Dan pada satu kenyataan sederhana bahwa hal ini tidak bisa lagi dikembalikan.

We all, indeed, need memories.

Wawancara Manusia

Saya paling suka bagian mewawancarai kandidat. Ini bagian favorit saya karena, saat wawancara, saya punya keleluasaan untuk menanyakan apapun selama ada di dalam batas norma, dan mereka mau tidak mau harus menjawabnya. Oleh karenanya, pertanyaan-pertanyaan menarik, filosofis, dan personal bisa saya lontarkan sesukanya. Jawaban tersebut bisa merepresentasikan banyak hal dari kandidat ini, yang kadang tentang hal yang mereka tidak sepenuhnya tahu.

Masalah dan Masa Lalu

Pertanyaan pertama yang paling sering saya tanyakan, dan tentunya hampir di tempat interview lainnya, adalah: apa masalah terbesar kamu dalam hidup sejauh ini? Tentunya tujuan dari pertanyaan ini sudah cukup jelas; supaya kita bisa melihat kualitas kandidat dalam menghadapi masalah dan tekanan. Tapi, saya lebih suka menelaah ini ke satu level lebih dalam: sebesar apa masalah yang mereka anggap besar. Jawaban singkat ini bisa merepresentasikan banyak hal, perspektif, kualitas hidup, latar belakang keluarga, dan proses perjalanan mereka. Kalau satu orang masa kecilnya di Suriah saat masa konflik atau di Ethiopia di waktu kelaparan, tentunya akan berbeda level masalahnya dengan orang yang lahir dan besar di Menteng. Jika ada kandidat yang menjawab bahwa masalah terbesarnya adalah diputusin pacar, saya sangat iri dengan hidupnya yang terlalu indah bersinar.

Apakah berarti orang yang memiliki masalah lebih besar memiliki kualitas yang lebih baik? Nah, ini yang menarik: ternyata tidak. Pertimbangan posisi serta pekerjaan yang diberikan akan berpengaruh besar kepada keputusan ini. Orang-orang yang lapang hidupnya juga memiliki kelapangan dalam berkreativitas, negosiasi, dan berinteraksi dengan orang lain; tapi mereka akan ciut di pekerjaan yang penuh tekanan fisik dan mental. Sebaliknya, orang-orang yang memiliki latar belakang yang sulit, bisa bekerja optimal dalam tekanan besar serta menunjukkan efisiensi tinggi, tapi minim dalam berkreasi.

Penyebab dari dualisme ini adalah pola pikir yang terbentuk dari pengalaman hidupnya. Orang yang berasal dari keluarga yang tidak mampu, dituntut untuk bisa fokus bekerja dan menentukan prioritas, bukan untuk berkreasi. Saat mereka sepanjang hidupnya biasa memiliki uang yang minim, keluarganya akan mengharuskan mereka untuk bisa prihatin dan menentukan pilihan di tengah tekanan. Saat uang tinggal seribu, mereka tidak bisa berkreasi tentang apa yang bisa dibeli, karena memang harus hanya nasi. Tapi mereka sangat baik untuk memastikan bahwa nasi ini bisa cukup dengan hanya uang sebegini.

Sebaliknya, kandidat yang dari keluarga mampu, bisa memiliki waktu dan energi lebih banyak untuk mengeluarkan kreativitas karena kebutuhan utamanya selalu terpenuhi. Mereka bisa berpikir untuk membeli mainan, buku, serta jalan-jalan di masa kecilnya sehingga di satu atau lain hal bisa membuka batasan mereka atas kemungkinan-kemungkinan yang bisa didapatkan atau hal-hal yang mungkin dilakukan.

Dari satu pertanyaan sederhana, walaupun tetap berpotensi bias dan salah, kita bisa mengetahui banyak hal tentang karakteristik yang terbentuk dari pandangan seseorang terhadap masalah terbesar yang pernah dihadapi dalam hidupnya. Kita bisa melihat lebih dalam diri seseorang sebagai manusia.

Hidup Mati

Pertanyaan lainnya yang hampir selalu saya tanyakan juga adalah: kalau kamu mati sekarang, apakah kamu bisa mati dengan tenang? Jika iya atau tidak, apa alasannya?Pertanyaan ini kelihatannya tidak cukup sering ditanyakan perusahaan lain, karena terbukti banyak yang ternganga saat pertanyaan ini keluar. Mayoritas orang akan kebingungan lalu menjawab dengan apapun yang ada di kepala. Beberapa memilih untuk tidak menjawab karena tidak tahu. Dan beberapa menjawab dengan sepenuh hati sampai bercucuran air mata. Pernah di satu hari, karena mungkin sedang on fire, saya membuat dua orang kandidat menangis saat wawancara dari pertanyaan ini.

Tentunya pertanyaan ini juga punya poin yang sederhana, sejauh apa kita menilai hidup kita dan di titik mana kita puas terhadapnya? Orang yang cukup memahami dirinya sendiri akan bisa menjawab ini dengan mudah, sesuai dengan nilai, visi, dan ekspektasi yang dia pegang. Hal-hal ini yang kemudian secara rutin dia evaluasi untuk bisa menakar apakah dia tetap ada di jalur yang benar, atau tidak. Sayangnya, orang yang seperti ini jarang.

Kebanyakan orang, saat ditanya soal kematian dan kehidupan, ia tidak mampu menjawab setegas kemampuannya menjawab tentang skill-set, pengalaman kerja, atau ekspektasi remunerasi. Padahal, hidup adalah keseluruhan proses besar yang mencakup itu semua, dan mati menjadi batas akhir segalanya. Jika kita tidak tahu apa yang bisa kita nilai dalam hidup ketika mati, lalu skill dan kompetensi apa artinya?

Kerja itu Transaksional

Sekalipun begitu, setelah proses wawancara ini, saya kembali menilai orang dari kulit terluar dalam proses yang begitu mekanistik. Saya melihat manusia hanya sebagai komponen mesin di suatu sistem kaku yang ujungnya menghasilkan luaran yang seragam yang saya impikan. Penilaian ini begitu penuh objektivikasi karena menilai makhluk hidup hanya dari apa yang bisa ia lakukan (skill-set) dari hal terkait yang pernah ia alami (experience). Saya tidak menilai dia dari keseluruhan kualitas, keresahan, mimpi, keinginan, dan keseluruhan pengalaman diri yang ia punya. Mereka hanya beberapa dari lebih banyak pilihan lain untuk mengisi peranan itu.

Di sisi lain, orang-orang kebanyakan juga melihat perusahaan bukan sebagai satu alat yang cukup krusial dalam membentuk dirinya, mengejar mimpinya, atau mencapai kepuasan hidupnya. Ini hanya jadi satu dari sekian pilihan untuk mendapatkan sumber daya yang cukup agar bisa melanjutkan kehidupan. Di ujung, ini akhirnya hanya menjadi satu proses transaksi materi. Tidak lebih. Kadang kurang.

Inilah yang sedih dan penuh ironi. Saat kita menghabiskan lebih dari separuh waktu kita di lingkungan kerja dan perusahaan menghabiskan lebih dari separuh biayanya untuk pekerja, bukankah sudah seharusnya kita bisa saling bertukar lebih dari sekadar materi?